” Nama TUHAN atau, GOD versus ALLAH “

Beberapa saat setelah Kompas Minggu habis saya baca, saya teringat bahwa konon khabarnya, katanya, di-Belanda ada seorang Bishop Katolik yang menyarankan agar kita menyebut nama God menjadi Allah, seperti kebanyakan orang2 Arab beragama Kristen di Timur Tengah yang menyebut Allah sebagai God, karena dalam bhs Arab Allah berarti God atau TUHAN.

Hal itu ternyata menjadi perdebatan di-televisi Amerika, Fox News, dimana mereka menghadirkan ustad Syamsi Ali dari Indonesia yang disebutkan sebagai seorang wakil dari Jamaica Islamic Center – New York dan seorang Pastor Katolik dari Amerika. Perdebatan mengenai God VS Allah ini berjalan lumayan cukup seru dan menarik bagi saya loh…

Perdebataan ini ternyata tidak hanya terjadi di-Amerika tetapi juga terjadi di- Malaysia dan di-Indonesia. Di-Malaysia orang2 non muslim dilarang menggunakan kata Allah sebagai TUHAN. Sehinga perlu pengadilan untuk memperdebatkan hal ini.

Aneh sungguh aneh ya…

Apalah artinya sebuah nama ?.

Berarti tapi tidak berarti. Tidak berarti tapi berarti, begitu kata orang, begitu pula kata teman saya.

Tapi kalau anda mau UNTUNG terus2an dalam segala kondisi maka ganti saja nama anda menjadi untung. Kalau mau selamat ganti juga nama anda jadi Slamet. Kalau anda pintar ganti saja menjadi UNTUNG SLAMET seperti nama sebuah hotel di-daerah Cibulan dikaki gunung Gede, Jawa Barat menuju arah puncak kalau anda pergi dari Jakarta.

Tapi sayangnya hotel tsb gak untung dan gak slamet. Buktinya hotel itu sekarang sudah tidak ada lagi. Bangkrut-kah ? Saya gak tahu…..

Barangkali namanya Untung Slamet dunia akhirat harusnya ya…he-he-he.

Menurut Pastor Amerika yang melakukan perdebatan dengan Syamsi Ali, beliau menyatakan bahwa dia tidak setuju dg pernyataan bahwa TUHAN tidak memperdulikan soal nama. ” God doesn’t care about name ” seperti yang dikatakan oleh Bishop di-Belanda.
Demikian berita dari Fox News. Untuk detailnya silahkan anda click sendiri di-website ww.youtube.com kemudian click God VS Allah.

Untuk selanjutnya baca juga artikel dibawah ini yang berhubungan dengan nama Allah VS God..

Selamat membaca. Semoga bermanfaat untuk bahan renungan ya.

Salam damai dan sejahtera. Stay smile. Don’t worry, be happy and pray more and more each day…

Dilarang Gunakan Kata “Allah”

KUALA LUMPUR – Tidak Hanya terjadi di-Malaysia saja loh. Kata “Allah” diklaim sebagai hak eksklusif umat Islam untuk menggunakannya. Akibatnya, sebuah penerbitan agama lain yang menggunakan kata tersebut dipaksa menghentikan atau izin penerbitan-nya dicabut.

” Hak eksklusif bagi muslim untuk menggunakan kata Allah hanya ada di-Malaysia”.
tegas Bernard Dompok, pejabat di-kantor perdana menteri negeri jiran itu.
Media The Herald tidak terima atas larangan tersebut. Mereka pun mengajukan gugatan ke-pengadilan dengan memasukkan nama Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi sebagai seorang tergugat.

“Kami juga mempunyai hak menggunakan kata Allah, tapi hak tersebut kini dibatasi,”
ujar Pastor Lawrence Andrew, editor The Herald, kepada AFP.

Larangan yang dialami koran dengan tiras 12.000 eksemplar itu sebenarnya sudah lama di-rasakan. Namun, karena tidak ada penjelasan pasti, mereka mengabaikan.
Menteri Muda Urusan Dalam Negeri Malaysia Mohamad Johari Baharum menjelaskan, izin The Herald akan dibekukan sampai media itu menyanggupi aturan yang ditetapkan peme-rintah tadi.

“Mereka harus berhenti menggunakan kata Allah. Baitullah, salat, dan Kakbah,” tegasnya.

Dasarnya, menurut Baharum, penggunaan kata-kata tersebut akan memunculkan kegelisah-an dan kebingungan di-kalangan komunitas muslim yang menjadi mayoritas di-Malaysia. Menurut dia, keputusan pemerintah itu sudah final.
Sumber : AFP/AP/dia/ruk

Komentar :

nih negeri kayak anak kecil aja, dikit2 main klaim, jangan2 permen gw yg dimulut ma cewe gw juga di-klaim sama para anggota2 malon ini cape deh orang kristen khan juga ngomong Allah masah ga boleh …sengsara orang non muslim hidup di-malon larangan yang aneh mengingat semua agama sumbernya memang dari Allah kenapa nggak judi genting aja yang ditutup.

***

Shalom.

Sebelumnya saya memberikan tanggapan dan pendapat saya, Indonesia juga sedang mengadakan perubahan besar dalam nama Tuhan. Nama Tuhan kristen Yahweh, diambil dari teks asli bahasa Ibrani (Kel. 3:15).

Jadi wajar Malaysia melarang, karena Allah, nama diri Tuhan Umat Muslim, sedang Yahweh nama diri (personal name) Tuhan Kristen.

Anda berminat, bisa hadir dalam persidangan gugatan untuk nama Tuhan Kristen di-Pengadilan Jakarta Pusat- Jln. Gajah Mada Jakarta, pada tanggal 4 Pebruari pada jam 10 Wib dan akan digelar terus. Tks. Gbu

Shalom.

Sebut saja nama Tuhan Kristen “Yahweh”, (bc:Kel. 3:15; Yes. 42:8; Rm. 3:2; Yoh. 4:22; 1 Taw. 16:26), anda bisa mendapatkan referensi dari kami, nama Tuhan Kristen Yahweh (Teks Asli Ibrani, bukan Lembaga Alkitab Indonesia) yang telah mengkebiri iman umat Kristen Indonesia / membodohi, kontak person : 081316263000 / 08122800219 / Yeremiyah–Jakarta / Yakob Sulistio -Jateng.

Anda dapat hadir dipersidangan gugatan tanggal 4 Pebruari 2008, jam 10. No perkara : 405 (pengadilan Jakarta Pusat).

Umat Kristen berdoa dan diputuskan nama Tuhan Kristen adalah Yahweh sesuai dengan teks asli bahasa Ibrani dan bukan Allah yang tertulis didalam Alquran.. .
Bapa Yahweh memberkati. ajak teman rame-rame… Halleluyah = Pujilah Yahweh, yah = yahweh.

Shalom.

Kejelasan nama Tuhan itu sangat penting. Hanya orang bodoh tidak mengetahui nama Tuhannya. Tuhan Kristen dan Muslim berbeda. Karena cara Ibadahnya juga berbeda, lain lagi ajarannya. Wajar Malaysia melarang. Tuhan Kristen dalam teks asli Ibrani ialah
” Y AHWEH ”

sedangkan Muslim dalam Alquran ” ALLAH ” (Dalam Alquran), selama ini terjadi kerancuan.

Lembaga Alkitab Indonesia telah membodohi umat Kristen di-Indonesia hampir 50 tahunan. Tidak menuliskan nama pribadi Tuhan Kristen seperti teks asli Ibrani. Pembodohan ini sangat keterlaluan. Saya memberikan saran, saudara yang ingin mengetahui kejelasan ini coba tanya Lembaga Alkitab Indonesia.

ALLAH bukan Tuhan umat Kristen, tetapi Tuhan umat Muslim sesuai dengan Alquran dari bangsa Arab. Tata cara Ibadahnya juga beda. YAHWEH mempunyai anak Yesus, ALLAH tidak, Ibadah Muslim berkiblat Kemekah, Kristen tidak.

Dalam teks asli Ibrani jelas sekali untuk itu. YAHWEH nama pribadi, ALLAH juga. Keduanya beda. Kristen tidak sholat lima waktu, Islam sholat. Islam Kewajiban jika sanggup naik haji, Kristen tidak.

Perbedaan ini sudah sangat jauh. Kristen MENGATAKAN Yesus Tuhan dan Juruselamat, Islam tidak mengakui. Masakan Tuhan sama, tetapi terjadi perbedaan dalam ajaran dan semua-nya.

Ini Komentar saya. saya setuju jika Malaysia melarang, jika berkenan saya siap untuk di-ajukan sebagai saksi di-pengadilan Malaysia untuk memberikan penjelasan ini kepada ha-kim atas tuntutan / gugatan pastor lawrence yang meminta secara hukum agar Perdana Menteri Malaysia mengijinkan nama “ALLAH ” dipakai umat Kristen di-Malaysia.
Pastor tersebut tidak memahami nama Tuhan sebaiknya beliau bertobat. . percuma jadi pastor. Tidak tahu teks asli bahasa Ibrani Israel, kitab apa dipegangnya sebagai kitab suci??. Dasar pastor tidak jelas, kasihan!!! Tuhan bangsa lain / Muslim / Arab diakui sebagai Tuhan-nya, tidak tahu malu, dasar tidak tahu bahasa Ibrani sebagai sumber Kitab suci dan Ke-kris-tenan!!!! ( Yoh. 4:22, Indonesia juga sedang mengadakan perubahan untuk nama Tuhan, Umat Kristen Indonesia lagi menggugat Lembaga Alkitab Indonesia sebagai penerbit agar nama Tuhan Kristen dituliskan dalam Alkitab dengan jelas yaitu :

” YAHWEH ” SESUAI DENGAN TEKS ASLI BAHASA IBRANI ISRAEL,

tidak ada dalam Kitab Suci teks asli bahasa Ibrani-Israel nama Tuhan “ALLAH”, dan yang ada ” YAHWEH ” BEGITU JUGA DALAM ALGURAN SEBALIKNYA

(bc: ayat2 kitab suci bahasa Ibrani, Kel. 3:15; Yes. 42:8; Kel. 20:17, 1 Taw. 16:26, Yoh. 4:22; Rm. 3:2, Zak. 14:9; Yer. 23:25-27) dan masih banyak lagi.
Bertobat!!!.

Yeremiyah / 081316263000-
Lukas / 08562933129.
Gbu

***

Di-Malaysia, penggunaan kata ALLAH dilarang digunakan oleh umat beragama lain (kristiani) (Baca sumber yang saya kutip di-bawah ini). Kata Allah adalah milik khas Islam karena berasal dari bahasa Arab.

Apakah Orang Arab atau Islam tidak menggunakan bahasa lain dalam hidup kesehariannya?

Apakah klaim kata ALLAH itu milik sendiri menunjukkan pikiran sempit?

Saya pikir masalah bahasa saja yang seyogiyanya masalah kecil, tapi bisa menjadi masalah besar dalam kehidupan bersama.

Syukurlah di-Indonesia, penggunaan kata Allah tidak ekslusif milik Islam saja, tetapi boleh digunakan oleh umat beragama lain. (Pormadi)

” Only Muslims can use [the word] Allah. It’s a Muslim word. It’s from the Arabic language. We cannot let other religions use it because it will confuse people,”
deputy minister for internal security Johari Baharum told the press in explaining the rationale for the controversial decision.

“We cannot allow this use of `Allah’ in non-Muslim publications; nobody except Muslims [can use it]. The word `Allah’ is published by the Catholics. It’s not right,” he said.

(http://www.atimes.com/atimes/Southeast_Asia/JA10Ae02.html)

Dilarang Gunakan Kata “Allah”

Gereja Malaysia Gugat Pemerintah ke Pengadilan

Kuala Lumpur – Pengurus sebuah gereja di-Malaysia mengajukan gugatan hukum atas peme-rintah ke-pengadilan karena melarang impor buku-buku Kristen yang mencantumkan kata “Allah”.

Menurut gereja itu, pemerintah bertindak tidak konstitusional dan melanggar kebebasan beragama. Gereja Evangelis Kalimantan cabang Sabah itu juga menyesalkan keputusan pe-merintah karena menyatakan kata “Allah” hanya boleh digunakan bagi umat muslim. Demi-kian disampaikan pengacara gereja tersebut, Lim Heng Seng, Kamis (27/12).

” Keputusan untuk mengumumkan ‘Allah’ hanya untuk umat muslim, mengategorikan hal ini sebagai masalah keamanan, dan melarang buku-buku dengan kata ‘Allah’ tidak sesuai dengan hukum,” kata Lim kepada kantor berita Associated Press (AP).
Masalah agama sangat sensitif di-Malaysia. Sekitar 60 persen dari 27 juta penduduknya adalah etnis Melayu yang beragama Islam. Etnis China, yang beragama Kristen dan Buddha, hanya berjumlah 25 persen dari populasi sementara warga India yang beragama Hindu 10 persen.

Kaum minoritas kerap mengeluh tidak bebas melakukan kegiatan keagamaan mereka, mes-ki konstitusi Malaysia menjamin hak setiap orang untuk beribadah sesuai dengan iman ke-percayaannya.

Dalam pernyataan yang diperoleh AP, seorang pastor, Jerry Dusing, mengatakan petugas bea dan cukai bulan Agustus lalu menyita tiga kardus berisi materi-materi pendidikan bagi anak-anak dari seorang jemaat yang sedang transit di-Bandara Kuala Lumpur.
Dusing kemudian diberi tahu bahwa buku-buku tersebut dilarang karena berisi kata “Allah” yang dapat menimbulkan kebingungan dan kontroversi di-kalangan muslim. Kementerian Keamanan Dalam Negeri juga menyatakan masalah tersebut sensitif dan dapat diklasifika-sikan sebagai isu keamanan.

Turun-temurun

Dusing menyatakan umat Kristen di-Sabah, Kalimantan telah menggunakan kata “Allah” se-cara turun-temurun saat beribadah dalam bahasa Melayu. Kata itu juga ada dalam Alkitab berbahasa Melayu.

” Umat Kristen menggunakan kata ‘Allah’ jauh sebelum Islam ada. ‘Allah’ adalah Tuhan di- Alkitab berbahasa Arab kuno dan modern,” katanya. Dia menambahkan kata ‘Allah’ diguna-kan secara luas oleh umat Kristen di-Indonesia, Mesir, Lebanon, Irak dan negara-negara lain di-dunia tanpa menimbulkan masalah. Dusing mengatakan buku-buku yang disita hanya akan digunakan dalam lingkungan gereja.

Gereja meminta pengadilan menyatakan hak konstitusional mereka untuk menggunakan kata ‘Allah’ dan hak untuk mengimpor buku-buku yang mengandung kata itu. Awal bulan ini, surat kabar mingguan Katolik diminta menghentikan penggunaan kata ‘Allah’ dalam ter-bitan mereka versi bahasa Melayu jika ingin memperbarui izin terbitnya. ‘Allah’ hanya ditu-jukan bagi Tuhan umat muslim dan hanya boleh digunakan oleh umat muslim, kata pejabat pemerintah yang tidak disebutkan namanya. (ap/nat)

Media Nonmuslim Dilarang Tulis `Allah’

Selasa, 01-01-2008 | 00:44:07

KUALA LUMPUR, BPOST – Sebuah majalah Katolik di-Malaysia, Senin (31/12), mengatakan pemerintah Malaysia telah memperbarui keputusannya dengan pelarangan penggunaan ka-ta `’Allah,” dalam tulisan media Kristen. Pemerintah sendiri mengeluarkan larangan ini di-maksudkan untuk menghindari terjadinya konflik rasial di-Negara Jiran.
Seperti yang dilansir Associated Press, pemerintah Malaysia telah melarang majalah ming-guan The Herald menggunakan kata Allah dalam tulisannya. Namun, ketika pejabat ke-amanan dalam negeri Malaysia di-konfirmasi tentang keputusan tersebut mereka menolak berkomentar.

Sedangkan Kementerian dalam negeri Malaysia mengulangi peringatannya kepada The Herald bahwa ijin terbit mereka akan dicabut jika masih menggunakan `Allah’. Menurut pejabat kementrian, kata `Allah’ adalah sinonim dari Tuhan yang lebih menggambarkan Tuhan umat muslim dan hanya bisa digunakan oleh orang muslim.

Pemerintah beralasan bahwa kata Allah dalam bahasa Arab berarti Tuhan, begitu juga da-lam bahasa Malaysia juga. Dan penggunaan itu di-media non Islam ditakutkan akan menim-bulkan gejolak di-negara yang mayoritas (sekitar 60 persen atau 27 juta) penduduknya ber-agama Islam ini.

Pemerintah mengkawatirkan jika umat Kristen menggunakan kata ini akan mengacaukan Malaysia. Namun, penganut Kristen di-Malaysia berargumentasi bahwa penggunaan Allah dalam kata Arab telah digunakan terlebih dahulu agama Kristen.

“Anda tidak dapat mencegah seseorang menggunakan kata ini dalam bahasanya. Kami membutuhkan kerjasama dan pengertiannya,” ujar Andrew, editor The Herrald.
The Herald sendiri telah menerbitkan 12.000 eksemplar dengan menggunakan bahasa English, Malaysia, Mandarin dan Tamil untuk 900,000 warga Katolik di-Malaysia. Dan me-nyikapi sikap pemerintah tersebut, The Herald akan mengajukan tuntutan di-pengadilan karena pemerintah dianggap membatasi kebebasan dan menyalahi Konstitusi yang ada Isu agama memang sangat sensitif di-Negeri Jiran ini. Mayoritas penduduknya memang ber-agama Islam. Namun, etnik China yang beragama Kristen dan Budha juga mencapai 25 per-sen. Sedangkan etnik India yang sebagian besar beragama Hindu berjumlah sekitar 10 per-sen. okz

Pemerintah Malaysia tetap bertahan dengan pendiriannya untuk melarang The Herald, su-rat kabar mingguan milik gereja Katolik menggunakan kata “Allah”, meski surat kabar itu sudah mengajukan gugatan hukum.

” Salah satu alasan untuk tetap mempertahankan larangan ini adalah, karena negara ini su-dah sejak lama menggunakan kata Allah untuk menyebut tuhan dalam keyakinan umat Islam, ” kata Abdullah Mohd Zin, menteri yang mengurusi kantor perdana menteri seperti di-kutip surat kabar The Star.

Menurut Zin, non-Muslim harus menggunakan kata “God” (Tuhan) dan bukan “Allah” untuk menyebut tuhannya. Ia juga menyatakan, penggunaan kata “Allah” tidak perlu menjadi per-debatan publik yang menimbulkan kesan seolah-olah tidak ada kebebasan beragam di-Ma-laysia.

” Penggunaan kata ‘Allah’ oleh non-Muslim bisa memicu sensitifitas dan menimbulkan ke-bingungan di-kalangan Muslim di-negeri ini, ” ujar Abdullah.

Pekan lalu, editor surat kabar The Herald pendeta Lawrence Andrew mengatakan, surat kabar The Herald yang dicetak dalam bahasa Melayu Malaysia, dibolehkan menggunakan kata “Allah” untuk menyebut Tuhan.

Menurut Pendeta Andrew, seorang perwakilan dari Kementerian Keamanan Internal mem-bawa sebuat surat tertanggal 28 Desember yang isinya pernyataan memberi izin bagi The Herald untuk menggunakan kata “Allah’ tanpa ada pembatasan atau sejenisnya.
Namun Abdullah mengatakan bahwa Pendeta Andrew salah mengerti. ” Itu hanya interpre-tasi pendeta sendiri, bahwa tidak larangan dalam penggunaan kata ‘Allah’, ” tukasnya.
The Herald, surat kabar seukuran tabloid, didistribusikan ke sekitar 850. 000 umat Katolik di-Malaysia dalam tiga bahasa; Inggris, China dan Melayu. Atas larangan penggunaan kata “Allah” oleh pemerintah Malaysia, Pendeta Andrew menegaskan akan tetap memperjuang-kannya lewat jalur hukum.

” Kami tidak akan menarik gugatan hukum yang telah kami ajukan, ” tandasnya seperti di-lansir Agence France-Presse (AFP).

Pendeta Andrew mengatakan, medianya menggunakan kata “Allah” untuk terbitan pertama tahun 2008, yang akan didistribusikan pada 6 Januari lusa. Tapi Deputi Menteri Keamanan Malaysia Johari Baharum menegaskan bahwa pihak The Herald harus mematuhi keputusan pemerintah Malaysia. (ln/iol)

3 responses to “” Nama TUHAN atau, GOD versus ALLAH “

  1. 1. Pada Musa, Tuhan berkata “Aku adalah Aku” dan sejak itu nama YHWH dipakai…di Alkitab

    2. “Aku adalah aku” dalam bentuk aram sangat mirip dengan bentuk “EBIEL” (My father (is) El). El = Dewa/GOD. EBI = Sumber/Bapa (tanpa melihat jenis kelamin).

    3.Tuhan YEsus mengajarkan “Our Father in Heaven”

    Jadi jelasnya “panggilan ke Tuhan” Adalah Bapa/Father.

    Sedangkan Nama Tuhan:

    1. Jerusalem = YHWH adalah SHALOM (PEACE). Shaw = joy(kegembiraan) Lome adalah empunya keabadian(lanjut usia).

    2. YESUS = YHWH adalah keselamatan.

    Jadi karena BAPA adalah ROH maka NAMA BAPA tidak dapat disentuh atau diperkatakan, hanya dapat dimengerti oleh hati yang dibuka oleh TUHAN dan itu adalah

    peace, joy, love(caring), hope,salvation..KASIH,HARAPAN, IMAN

    TUHAN ITU SEPERTI angin yang berembus ke muka, seperti laut, seperti padang rumput, seperti senyum seorang ibu, seperti tangisa pertama anak bayi, seperti rangkulan seorang sahabat, seperti es di musim panas,seperti selimut di dinginnya pagi…

    ITULAH NAMA TUHAN…..hanya anak2nya saja yang mengenalnya….

    YAh….kitalah yang mengerti hal itu….anak2 terang

    itulah yang membedakan kita dari anak2 kegelapan…..

    anak2 kegelapan hanya mengerti sukaria, teriak2, pertengkaran, pertarungan…mereka tertawa dan berteriak melihat hal2 yang merusak….film action laga di teve…..

    Ini juga adalah bukti bahwa Kita berasal dari Tuhan..karena jauh didalam hati kita, kita mengharapkan cinta kasih, kedamaian, perlindungan, kesejukan ,keindahan, dan segala hal yang baik……

    Bila kita merasakan ini.itu berarti kita berasal dari DIA yang empunya nama tersebut……….

    DIA BAPA kits…BSPS YANG EMPUNYA DAMAI KASIH DAN KEBENARAN……………

  2. Membaca sepenggal tulisan tentang sebuah Hotel dikaki gunung Gede, menuju arah Puncak … tepatnya Cisarua – Bogor mengingatkan saya kepada sebuah ide yang hebat, pemilihan lokasi yang tepat dan insting Bisnis yang kuat dari seorang Ayah (alm)
    Sayangnya saat ini Hotel USSU tinggalah kenangan,
    berganti kepemilikan serta berganti nama menjadi Hotel Grand USSU

    Terimakasih atas paragraph dalam artikelnya, May God Bless U … AMEEN

    Son of DS

  3. Syamsul 'Ulum Hasan

    Assalamu ‘alaikum.
    Mungkin reply saya ini sangat terlambat, karena baru hari ini (28 Mei 2011) saya membaca artikel mengenai penggunaan nama ALLAH ini.
    Saya setuju dengan pelarangan penerjemahan kata GOD (dalam Bible berbahasa Inggris) menjadi ALLAH (dalam Bible bhs. Indonesia dan bahasa negara Muslim lainnya). ALLAH dalam Alquran adalah zat yg tidak punya anak, tidak punya orang tua dan tidak ada satupun yg menyamainya. Sedangkan GOD-nya Bible 180 derajat bedanya.
    Pernyataan pendeta Jerry Dusing bahwa kata ALLAH sudah ada sejak Islam belum ada dan tercantum dalam Bible bhs. Arab kuno adalah BOHONG BESAR!. Buktikan bahwa 1500 tahun yg lalu di tanah Arab sudah Bible berbahasa Arab!! Lagipula, kalau memang ALLAH = GOD-nya Bible, kenapa kata ALLAH cuma ada di Bible negara2 yg penduduknya mayoritas Muslim?. Jadi jangan salahkan kami (umat Islam) kalau kami berkeyakinan bhw para pendeta Kristen sedang memprovokasi kami agar marah, lalu mereka melalaui media massa internasionalnya menuduh kami tidak toleran/memusuhi mereka!.
    Wassalamu ‘alaikum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s