” Bijak Gak Sih ? “

Tanya : Bijak ngga ya jika aku bicara begini ke anakku:

Dik, sholatnya yang rajin, katanya pingin masuk SMP 21. Kalo ngga rajin sholat dan berdo’a ntar ngga dikasih Allah, lho…

Rini

Jawab : lebih bijak lagi kalo ngomongnya begini mbak:

” Dik sholatnya yang rajin biar Allah sayang sama adik….kalo mo masuk smp 21, belajarnya yang rajin dan jangan lupa berdoa sesudah sholat biar Allah mengijinkan adik masuk smp 21″

wassalam ferry

***

Tanpa disadari, orang tua sering menuntut anak untuk selalu bersikap dan bertindak benar, hingga hampir-hampir tak memberi tempat kepadanya untuk berbuat kesalahan.

Bila orang tua menganggap bahwa setiap kesalahan adalah dosa yang harus diganjar dengan hukuman, maka anakpun akan memilih untuk berbohong dan tidak mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya dengan jujur.

Kesulitan baru akan muncul karena orang tua tidak tahu kesalahan apa yang telah dibuat anak, sehingga tidak tahu tindakan apa yang harus kami lakukan untuk mencegah atau menghentikannya.

Kita sebagai orang tua menjadi sadar bahwa ada kalanya anak-anak perlu diberi kesempatan untuk berbuat salah, kemudian iapun bisa belajar dari kesalahannya.

Konsekuensi dari sikap dan tindakannya yang salah adakalanya bisa menjadi pelajaran berharga supaya di waktu-waktu mendatang tidak membuat kesalahan yang serupa.

Mudah mudahan komentar diatas dapat memberikan jawaban yg keluar dari diri kita sendiri…….sudah seberapa bijakkah kita terhadap anak kita sendiri…..

Dan menurut saya yang paling bijak adalah bukan banyak memberikan “konsep-konsep dan teori-teori” yg berbentuk “nasihat atau perintah”, tetapi kita justru harus menyinkronkan antara ucapan dan tindakan diri kita, memberikan contoh-contoh perbuatan atau amalan……

karena seorang anak mengalami proses evolusi spiritual mungkin melalui perasaaan bahwa dirinya bukan hanya milik orang tua tetapi dia juga adalah milik masyarakat sebelum dia sendiri menyadari bahwa hanya Allah lah yang memiliki dia.

semoga bermanfaat

***

Mas,

saya jadi ingat pada ajaran orang tua saya. Mereka berdua tidak pernah menyuruh saya untuk sholat, puasa atau mengaji (waktu kecil emang dipanggilkan guru mengaji ke rumah, tapi saya hanya katam sampai huruf ‘ba’ karena berlarian menjemput Ibu yang pulang
dari pasar).

Sampai di titik dewasa pun, mereka membiarkan kami mencari jalan sendiri. Di antara kami ber7, ada yang sangat syariat, ada yang biasa wae, meskipun udah haji tapi kayaknya ngga getol ibadah juga (seperlunya aja), ada yang suka mencari orang-oang pintar dan ada yang ‘gila’ kayak saya ini.

Semua berjalan dan semuanya tetap patuh kepada orangtua, dan tidak pernah kami menyalahkan mereka karena tidak ‘mendidik agama secara benar’ (see: di antara tanda petik). Kayaknya prinsip ortu saya: Que siera..sirea.. what ever will be, will be….
The future’s not ours to see…

***

Kalo menurut gue sih, yg bijak gini nih, barusan gue denger dari khotbah Jumatan, di mesjid deket kantor.

Sekarang kan jaman udah terbalik. Yang bener jadi salah yang salah jadi bener. Yang haram jadi halal. Ini semua kebiasaan jelek. Yah…kebiasaan yang jelek banget-banget.

Liat aja deh…di jalanan. Macet di-mana2. Sampai2 ada acara di-radio yang mengudara dan menjelaskan mesti lewat jalan mana yang gak macet.

Kenapa ?

Karena gak disiplin. Gak sabar. Lampu merah yang harusnya berhenti ini malahan jalan. Sebaliknya lampu hijau yang seharusnya jalan ini malahan berhenti. Terbalik.

Kenapa ?

Karena gak bisa jalan, jalanan macet, mampet. Saling serobot gak mau antri. Gak biasa antri. Maunya serba instan, serba cepat tapi malahan jadi lambat. Bodoh kan ?.

Semua,…kebanyakan pejabat sebelum menjabat disumpah menurut agamanya masing2 untuk mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Dilarang korupsi. Dilarang terima uang sogok, pelicin dsb. Tapi nyatanya ? Nol besar kan. Bener gak ?.

Kenapa ?

Karena mereka gak takut sama TUHAN. Hatinya keras seperti batu. Pikiran mereka gelap tertutup hijab. Setan menari-nari dan menabuh gendang didalam hati dan di-pikiran mereka. Sehingga mereka mabuk kepayang lupa diri, lupa anak lupa istri. Apalagi mertua yang bawel. Eh dia, suami gue, malahan mau kawin lagi. Dasar laki2 dodol !.

Dikira TUHAN gak punya lap top yang mencatat segala tetek bengek yang jelek2 and brengsex2 yang mereka lakukan. Dasar dodol. Bodoh.

Jadi yang bijak menurut saya adalah mengatakan hal yang sebaliknya. Seperti tulisan Arab. Ditanggung tidak luntur. Luntur tidak ditanggung.

Ayo mari ramai2 kita korupsi, jangan2 mereka malahan gak korupsi.Takut, barangkali.

Gak usah belajar dik…paling2 nanti kamu jadi bodoh dan jadi gembel pengangguran.

Gak usah berdoa dik, paling2 kamu nanti masuk neraka…enak loh disana. Banyak temen…banyak ini itu.

Makin dilarang makin dilanggar. Peraturan dibuat itu untuk dilanggar. Begitu pikirnya barangkali ya .

Jadi sebaiknya, yang bijak, menurut saya adalah:

Kita balik ajakan-nya. Gimana ?

Silahkan mencoba, semoga berhasil.

Rasakan sendiri. Alami sendiri. Baru anda tau, yakin dan percaya. Bukan hanya katanya. Katanya orang.

Pengalaman adalah pengetahuan, bukan teori, bukan janji2 tapi bukti.

Mendingan mana dikira belajar padahal eggak, atau dikira gak belajar padahal belajar.

Mendingan mana dikira Play Boy padahal Pray Boy atau sebaliknya ?.

Mendingan mana dikira miskin padahal kaya atau sebaliknya ?

Terima kasih TUHAN, Gusti Alloh Tersayang. Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan yang terang, bukan jalan yang macet, gelap, semrawut dan amburadul.

Salam🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s