Kematian itu tak pernah ada

(Sumber Internet- lupa dimana tapi bisa dicari di-google kok…) – Ratusan hadirin yang memadati Ballroom Hotel Shangrila Jakarta malam itu (19 Maret 2004), tak bersuara. Selama lebih dari sejam mereka dibuat terpukau oleh suara lembut sosok bertubuh kecil yang duduk sendirian diatas panggung didepan mereka. Wajah-nya yang cerah dan jenaka itu sungguh bertolak belakang dengan topik yang sedang dibawakan-nya yang bagi banyak orang, mungkin, lebih baik dihindari.

“Life After Death” (Hidup Sesudah Mati), demikian tulisan yang terpampang sebagai latar belakang panggung, yang juga menjadi topik ceramah saat itu.

Pembicaranya adalah seorang Master spiritual dari India, berusia 86 tahun, Dada JP Vaswani, yang di-Indonesia beberapa bukunya diterjemahkan juga oleh Master yang lahir di-Indonesia, Anand Krishna.

“Kematian itu tak pernah ada,”

demikian ungkap Dadaji. Bahkan topik “Life After Death” sendiri, menurut-nya, merupakan sebuah kekeliruan. Kesalahan umum-nya manusia yang juga menjadi sumber segala pertikaian dan
penderitaan adalah

“mengidentifikasi diri kita, aku, dengan badan.”

Badan ini, ibarat mantel. Ketika di-lepas-kan, maka kita tetap akan ada, sebab kita bukan-lah mantel itu. Dada berulangkali menekankan bahwa kita tidak pernah bisa mati.

“Badan bisa mati, karena badan itu dilahirkan. Sesuatu yang dilahirkan, pasti kelak akan mati. Tapi, kita bukanlah badan.”

Pada saat yang kita sebut “kematian” datang, kita tetaplah sama.

” Kita tetap bisa berpikir dan merasakan.”

Yang berbeda, tak ada lagi sangkar ruang dan waktu yang membatasi kita. Sayangnya, menurut Dada, kebanyakan manusia yang masih berada dalam alam dunia ini sulit sekali menyadari hal ini. Bahkan, banyak orang yang mengaku tak takut mati, padahal sebetulnya didalam hatinya dia masih ingin tetap berlama-lama didunia.

Dada menceritakan pengalaman-nya bertemu seorang wanita tua yang merasa amat menderita, dan mengatakan bahwa ia akan

“dengan bahagia menyambut, bila kematian datang menghampiri.”
Hendak menguji wanita itu, Dada bertanya,

“serius Anda ingin mati?”

Wanita itu mengiyakan. Tak lama kemudian, Dada mengambil bubuk “buatan-nya” dan menyerahkan pada wanita itu sambil berkata,

“minumlah, setelah ini Anda akan mati. ”

Wajah wanita itu, tiba-tiba pucat. Ia bilang, ia harus pergi sebentar untuk menyelesaikan beberapa perkara dan berjanji untuk segera kembali. Namun, kata Dada,

“sampai hari ini, ia tak pernah kembali.”

Rahasia “kematian” memang hanya bisa di-bicara-kan oleh orang-orang yang pernah mengalami near death experience – seperti yang pernah dialami oleh Dada Vaswani sendiri dan para Master spiritual lain-nya.

Karena pernah menjalani sendiri proses itu, orang-orang seperti Dada dapat berbicara dengan lugas, jernih dan terasa menyejuk-kan, membawa rasa damai. Sembari meng-ingatkan makna hidup di-dunia, yang umum-nya kita lupa.

Tak hanya menjelaskan, Dada pun memberikan beberapa tips bagi yang hadir untuk bisa memahami :

“mengapa dan apa tujuan kita lahir kedunia. ”

Salah satu-nya adalah mantra yang harus di-ucap-kan minimal lima kali pada saat hendak bangun tidur. Mantra itu berbunyi:

“Aku bukan-lah badan ini, Aku-lah Itu. Bantu-lah Aku, Tuhan.”

Mantra, apapun, yang diucapkan setiap saat sangat penting bagi setiap orang yang ingin terbebas dari kesadaran badaniah. Sebab, menurut Dada, apa yang paling sering kita pikirkan selama berada di-dunia, itu pula yang akan kita dapatkan di-“alam sana”.

Dalam tips yang lain-nya Dada mengajak semua yang hadir untuk senantiasa mendekatkan diri dengan para “Man of God”. Para nabi, avatar, master atau-pun wali Tuhan yang kita kenal dan merasa dekat dengan-nya.

“Kelak (setelah meninggalkan badan), kita akan melihat cahaya yang sangat terang laksana 100.000 matahari, dan dari sana akan muncul Ia yang kita cintai.

Bisa Yesus, Buddha, Krishna, Kabir atau siapa-pun Guru kita. Ia akan bertanya,

”apa yang telah kau lakukan dengan hidup-mu, anak-ku.”

Pada saat itu, kita akan melihat semacam film tentang kehidupan kita.

“Tak ada yang bisa ditutup-tutupi lagi,” ujar Dada.

Seorang Master mengetahui segala rahasia kita. Karena itu, tak ada yang perlu ditutup-tutupi dari seorang Master. Mereka yang akan menuntun dan “menyelamatkan”, bahkan saat berada di-alam-alam yang tak pernah kita ketahui sebelum-nya.

Tak terasa waktu telah berpacu cepat. Dada-pun mengakhiri wejangan-nya diikuti tepuk tangan panjang.

Ia menunduk-kan kepala sejenak didepan foto besar Sadhu TL Vaswani, Guru-nya, yang nama-nya diabadikan sebagai organisasi yang kini dipimpin oleh Dada, “Sadhu Vaswani Mission.”

Gambaran sebuah bhakti dan kerendahan hati.

2 responses to “Kematian itu tak pernah ada

  1. hmm memang kita masih terikat dengan daging dan darah. bahkan tak jarang menggandulinya dengan barang duniawi, bahkan yang laknat dan pekat.

    ya, mungkin bila sadar maut bisa menjemput, justru semangat hidup bisa meningkat. unik juga.

    thanks sharingnya…

    manusia memang bukan sekedar komputer yang bisa di-turn-on dan turn-off.

  2. aku adalah aku.. aku yang sering tersesat .. hiks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s