” Matakeranjang “

“Mata Keranjang” bisa laki bisa pula prempuan, wanita. Bencong juga bisa. Tergantung , pada siapa dia-nya bergantung.

Bisa jadi juga, dia itu udah mata keranjang mata duitan pula…..wah-wah-wah, bisa berabe, bisa repot punya kalo ketemu yg jenis kayak gini nih. Jangan ah !.

Sementara “ Mata Keranjang “ maknanya sendiri boleh jadi mengacu ke-“mata ke-ranjang” yg dalam hitungan detik …..Ranjangpun bergoyang dan Ego-nya membesar ! he-heheh-he.

Jangan-jangan dulu-nya dia mantan pasiennya mak Erot barangkali ya, yg ahli pijit memijat, erot mengerot yg sangat bisa membesarkan dan mengecilkan EGO kalian masing2.

Gue jadi inget crita dari temen gue, katanya

“ Kalian orang bisa hidup dan lahir didunia ini lantaran gara2 Ego dari bapak dan ibu kalian yg saling beradu, saling bertemu dan saling berhubungan. Berhubungan intim sekali. Sembilan bulan kemudian….jadilah kau itu ! Tau gak kau….hah ? “.

Oh….begitu toh?

Gue ini kan peyeumpuan terhormat, Indo seksi, berpendidikan overseas dan juga dari keluarga terpandang, turunan keluarga ningrat berdarah biru tua.

Tapi yg paling penting adalah bahwa gue ini mata keranjang loh. Gue sueneng banget ngelirik le-Laki muda, cakep dan kaya raya. Pokoknya yg high profit and high quality lah…. hhhmmm.

Gue lebih suka ngeliatnya sebagai tanda menyukurin nikmat TUHAN yang telah menciptakan sesempurnanya makhluk ciptaan-nya…. gitu…he-heh-heh-heh.

Mata boleh belanja, lirik sana lirik sini, nah, inilah yg sebenarnya, kenapa itu disebut mata keranjang, soalnya pengennya gue belanja terus sampe mamfus….sampey duit gue abis, dompet suami gue tipis.

Perlu di-ingat pula bahwa belanja itu tempatnya di-keranjang…, tapi hati gue tetep satu…. pd yg itu.

” Menikahi orang yang gue cintai adalah kemungkinan, mencintai orang yang gue nikahi adalah kepastian sekaligus kepuasan lahir bathin…” he-heh-heh. Sembari kipas2 sedikit kegerahan. Su’muk.

Nah…ada kejadian lucu deh, cowok gue, calon suami gue yang terakhir, semoga !, yg ketiga, bukan hanya mata aja yg bisa ketiga bo….ternyata mata keranjang pula dia-nya.

Mata Keranjang dan hidung belang ……..wah komplit deh penderitaan gue.

Gue jadi bingung, inikah yg disebut serasi ataukah gue kena hukum karma ya..?

Padahal yg gue mauin tuh yg prayboy…yg udah makrifat beneran kayak sampeyan2 itu loh, yg masih muda, imut2, yg jam terbangnya masih rendah.Perjaka ting-ting !.

Eh elo tau gak, kok kebetulan, dia juga berpikir yg sama dg apa yg gue fikirin. Jangan-jangan dia punya mata ketiga barangkali ya. Jangan2 emang udah jodoh gue kali yee…he-heh-heh. Kampret !.

Idih mosok prempuan terhormat ngomong gitu sih…kampret2 segala. Kan gak boleh ya ?. Harusnya kan dia itu bilang trima kasih ama TUHAN, ya gak ?. Bukan-nya komplein2 terus2an gak brenti2nya.

Tapi itulah, kalian kaum lelaki harus understand, wong namanya juga prempuan, mata keranjang lagi……kemayu, centil.

Ngalah aja lah….daripada jangan2. Elo tau …perang aja bisa brenti hanya gara2 prempuan brenti gak mau di-anu-in ama le-laki. Akibatnya dahsyat banget loh !.

Inget gak cerita Lysistrata ? yang loosely translated to “she who disbands armies”, is an anti-war Greek comedy, written in 411 BCE by Aristophanes.

Led by the eponymous Lysistrata, the story’s female characters barricade the public funds building and withhold sex from their husbands to end the Peloponnesian War and secure peace.

In doing so, Lysistrata engages the support of women from Sparta, Boeotia, and Corinth.

All of them, at first aghast at the suggestion of withholding sex, finally agree swearing an oath of allegiance to the cause.

Eh ngomong2, hidung belang dan mata keranjang itu konon khabarnya adalah setali tiga uang loh. Dua2nya berurusan dengan fornifikasi: bersetubuh bukan hanya dengan satu saja pasangan cinta, melainkan dengan bergonta-ganti pasangan tanpa mengucapkan pernyataan cinta sekalipun.

Bagaimana istilah hidung belang dan mata keranjang lahir dan terpakai dalam khazanah perbahasaan Indonesia?

Kisahnya menarik banget loh, katanya 23761 – remisilado (nara sumber-nya)

Istilah hidung belang lahir di-Jakarta pada zaman yang amat menyulitkan bagi lelaki-lelaki Belanda, tepatnya abad ke-17 dimasa awal berdirinya VOC.

Orang Belanda yang datang ke-Indonesia pada zaman itu hampir semua tanpa istri, seperti tulis Victor Ido dalam Indie in den gouden ouden tijd, menimbulkan masalah sosial dan moral yang pelik.

Salah satu masalah yang tak terhindarkan dari masa itu adalah berkembangnya secara leluasa pergundikan lelaki Belanda dengan perempuan-perempuan pribumi.

Namun, seperti kata Adelante dalam Concubinaat bij de ambtenaren van het Binnenlandsch Bestuur in Nederlandsch-Indie, pergundikan yang merupakan pilihan sulit didepan jalan buntu meluas diantero negeri bukan saja dikalangan Belanda sipil dan pedagang, tetapi juga para penguasa.

Setidaknya pilihan konkubinase atau pergundikan yang dilakukan Belanda terhadap pribumi tersebut lebih aman, selain memang tidak ada jalan lebih nalar untuk menghadapi dorongan-dorongan insani, berhubung langkanya perempuan kulit putih dinegeri ini.

Salah seorang perempuan yang pernah terlibat cinta dengan lelaki Belanda, dan karenanya menimbulkan heboh, adalah Saartje Specx. Namun, oleh peristiwa tragis yang menimpa kekasihnya, maka lahirlah istilah ini: hidung belang.

Saartje Specx, sebagaimana dicatat oleh Hertog dalam Vrouwen naar Jacarta, adalah anak angkat Jan Pieterzoon Coen. Ia dicintai oleh Pieter Cortenhoeff, perwira pengawal sang Gubernur Jenderal.

Pada suatu hari mereka kedapatan bercumbu bercinta disebuah kamar. Coen geram sekali, lantas menghukum perwira muda itu, menuduhnya melakukan zina. Cortenhoeff digantung ditengah kota dengan lebih dulu dicorengi hidungnya dengan arang.

Sejak itu semua orang yang kedapatan berzina ditangkap, lantas dibelangi hidungnya atau dicorengi wajahnya dengan arang. Coba sekarang masih ada yg kayak gitu, gue jamin dan gue yakin bahwa elo2 orang pasti kebagian ya.Hhhmmm.

Karenanya lahir istilah yang unik ini. Sekurangnya membelangi hidung dengan arang masih lebih lunak dan santun ketimbang yang dilakukan orang-orang sekarang, abad ke-21, menelanjangi dan mengarak di jalan, bahkan kemudian membakarnya. Yang ini mah sadis ya.

Bagaimana dengan mata keranjang yang kira-kira setali tiga uang dengan hidung belang?

Ini hanya persoalan kekeliruan melakukan transkripsi dan transliterasi tulisan Arab-gundul, yang merupakan tulisan awal Melayu, kedalam aksara Latin.

Dalam tulisan Arab-gundul, mata keranjang dibentuk dengan huruf-huruf mim digandeng dengan alif dan ta, lalu kaf digandeng ra menyusul nun, jim, dan ngain. Jadi, karena kaf dan ra disatukan, maka pelatinannya menjadi keranjang.

Kata depan kepada waktu itu memang digabung dengan kata yang mengikutinya. Mestinya dengan Ejaan Yang Disempurnakan, mata keranjang ditulis sebagai mata ke-ranjang, yang maksudnya adalah lelaki atau perempuan yang tergiur melihat dengan mata pada lawan seksnya, lantas pikirannya tertuju keatas ranjang.

Setali tiga uang berurusan dengan kebijakan Belanda dulu membuat uang bernilai setalen atau setali (25 sen) untuk meringkas dua keping nilai ketip (10 sen) dan satu keping nilai kelip (5 sen).

Jadi, setali adalah tiga uang yang menjadi satu, maksudnya sama saja nilainya.

Jadi mata keranjang dan hidung belang masih sodara deket…gitulah critanya. Serupa tapi laen…….mirip lah.

One response to “” Matakeranjang “

  1. oooooooooo …………….. begitu to, baru tahu sekarang, je

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s