Demi masa, demi waktu

Demi waktu …sesungguhnya manusia merugi, kecuali orang orang yang beriman….gitu ya kurang lebih cuplikan sebuah ayat Al-Qur’an tentang Apa makna Waktu?

Pikiran membagi-bagi waktu. Usia adalah perjalanan waktu, kita butuh waktu untuk melangsungkan suatu tugas tertentu, apapun yang terjadi di-alam ini tidak mungkin lepas dari campur-tangan waktu. Tak pelak lagi, waktu merupakan salah satu dimensi utama di-alam ini. Agaknya kita semua sepakat kalau waktu sangatlah penting buat kita. Time is money…

Akan tetapi, bagaimana kita memaknai waktu selama ini?

Secara sadar, waktu telah kita bagi-bagi kedalam tiga kurun:

yang lalu, kini, dan yang akan datang.

Akan tetapi, bisakah waktu benar-benar dibagi sejauh ia merupakan suatu aliran menerus yang tiada terputus?

Adakah awal pun akhir dari sang waktu itu sendiri?

Kita, pikiran dan ingatan kitalah yang membagi-bagi waktu seperti itu bukan?

Sesuatu yang pernah kita alami dan masih kita ingat sekarang ini kita sebut sebagai ‘yang telah lalu’. ‘Yang telah lalu’ ada dalam ingatan kita. Lalu bagaimana dengan yang tidak kitaingat, tidak kita ketahui, walaupun memang pernah terjadi?

Sementara itu, yang belum terjadi hingga saat ini dan kita percaya ia akan terjadi kemudian, kita golongkan sebagai ‘yang akan datang’.

Lalu bagaimana dengan yang tidak kita percayai, namun ternyata benar-benar terjadi?

Sipikiran–dimana didalamnya termasuk ingatan dan apa yang dipercayainya—yang menjadikan dirinya sebagai pusat darimana ia mengamati semua itulah yang membagi-bagi waktu. Waktu tiada bergeming. Waktu sebetulnya tidak berjalan, tidak mengalir, bahkan bergeming-pun tidak.

Ia hanya ada karena adanya pikiran, dan seolah-olah bergerak relatif terhadap posisi pikiran yang tak pernah diam. Waktu yang seolah-olah bergerak inilah yg kita sebut sebagai waktu kronologis atau waktu yang seolah-olah bergerak karena kita ukur dengan kronometer yang bergerak.

Seperti halnya ruang, waktu hanya terhampar, terbentang begitu saja. Musim memang silih-berganti dan berulang, namun WAKTU tidak-lah demikian…

Seperti juga ruang, ia juga tidak lurus ataupun siklik. Ia tanpa bentuk tertentu. Hanya atas keperluan kitalah—yang dalam hal ini sipikiran—kita merasa berkepentingan untuk mengetahui apakah waktu itu lurus atau siklik. Bahkan kita ingin tahu kapan awal dan akhir dari waktu.

Jaman—yang adalah pembagian waktu yang dibuat oleh pikiran untuk kepentingannya— boleh jadi berawal dan berakhir, namun seperti juga ruang yang tak ada ujung dan pangkalnya, waktupun tanpa awal dan tanpa akhir. Hanya sesuatu yang punya awal akan punya akhir, dimana pergerakan dimulai pada titik awal menuju titik akhir. Tanpa awal dan tanpa akhir, tiada pergerakan. Hanya bila Anda bisa mendiamkan pikiran –kendati hanya sesaat saja— Anda bisa tahu kalau sebetulnya waktu tiada bergeming sedikitpun.

John Jamieson Carswell Smart, Emeritus Profesor bidang Ilmu Filsafat dari Institute of Advanced Studies di ustralian National University, Canberra, yang juga adalah kontributor dari Encyclopaedia Britannica 2003— dengan tegas menyatakan kalau waktu adalah demi kepentingan filosofis disamping juga sebagai subjek di dalampenyelidikan matematis dan ilmiah.

Apa artinya ini?

Bukankah ini berarti waktu ada bagi kepentingan-nya si pikiran, karena pikiran tidak dapat bekerja tanpa menggunakan waktu dan memasukkan unsur waktu di-dalam-nya?

Bila tidak, maka seharusnya pikiran bisa memikirkan sesuatu secara seketika dan dengan tanpa mengasosiasikannya lagi dengan pengalaman-pengalaman yang pernah dialami atau pengetahuan yang pernah dipelajari serta ingatan-ingatan terkait yang tersimpan didalamnya bukan?

Apa arti dari semua fakta ini?

Bukankah ini juga berarti bahwa, pikiran adalah waktu dan waktu adalah pikiran?

Itulah makna waktu bagi kita bukan?

Jadi kalau waktu = pikiran maka ayat diatas menjadi :
” Demi pikiran…sesungguh nya manusia merugi…..hmmm ”

-dodi suwardi-

Kang Dody,

Hmm….kalo aja waktu = pikiran = pikirin..

TemenLo akan bilang gini : ” Emang Gue Waktu = Emang Gue Pikirin ”

TemenLo : Kapan ada waktu kita bisa makan waktu , eh makan pete, sambel trasi ikan pepes…dll di dapur sundanya kang Dody ?

SuniL Dut : Soal pembayaran-nya jangan di-waktu-in…eh jangan di-pikirin. We do it Indian style okay ?

Dody : Apaan itu ?.

SuniL Dut from India (TemenLo juga) : Itu artinya Payment after 90 days….he-he-he.

Dody : Temen sih temen tapi makan kudu bayar kontan…makan sekarang bayar sekarang. Makan besok bayar besok….Kalo gak gitu, gue bisa bangkrut dong !.

TemenLo : Mau bangkrut kek, mau go public kek …Emang Gue Waktu, Emang Gue Pikirin ?. Dari waktu ke-waktu, waktu ya tetep waktu….jadi utk apa buang2 waktu. Waktunya solat ya solat waktunya anu ya anu…hmmm yg ini nih (soal per-anu2an) gue paling suka deh…

Dody : Me too……hmmm hanya soal waktu -nya aja. Siang, sore, magrib, malem, ato subuh ato malahan gak kenal waktu ?.

One response to “Demi masa, demi waktu

  1. very interesting, but I don’t agree with you
    Idetrorce

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s