” Telor Jepang…Teror “

Orang Jepang kalau membaca TELOR, yang kita dengar adalah TEROR……Mereka kan gak bisa bilang EL..beginilah kisahnya TELOR made in Japan.

Masalahnya tampak sederhana. Teman saya, publisher sebuah majalah musik terkenal, tergila-gila pada telor. Hampir disetiap kesempatan makan, urusan telor tak pernah ketinggalan. Dari mulai sarapan, makan siang, sampai makan malam. Hanya Telor dan telor aja yang dipikirin. Sambil mengusap-usap telor miliknya.

Namun urusan telor itu mendadak jadi rumit deh, ketika kami ber-ada di-Jepang baru-baru ini. Suatu hari, saat makan siang, di-salah satu menu disebutkan ada makanan yang disajikan dengan telor goreng setengah mateng diatasnya.

Terbit air liur sang kawan.

Tapi setelah tahu ada bahan yang haram, dia mengubah pesanan-nya. Kepada waiter, dia wanti-wanti agar telor goreng setengah mateng tadi bisa dipindahkan ke-pesanan yang baru.

Sang waiter menggeleng-geleng tanda tidak bisa, tidak boleh. Sambil menggumam dalam bahasa Jepang

” Anone..Dame…dame..”

Permintaan yang “sepele” itu tidak dapat dipenuhi karena menu yang baru memang ditawarkan tanpa telor.

Setelah melalui perdebatan yang seharusnya tidak perlu, akhirnya kami minta agar dia memanggil manajer restoran. Kebiasaan buruk. yang seharusnya tidak kami lakukan di-negeri orang, orang Jepang pula.

Kepada sang manajer, kami jelaskan soal keinginan tadi. Dengan mem-bungkuk2 90 derajat dan permohonan maaf ber-ulang2, dia mengatakan bahwa permintaan itu tidak bisa dikabulkan. Apa yang ditawarkan, itulah yang bisa mereka sediakan. Meskipun kami sudah menawarkan membayar berlipat ganda untuk telor itu.

Kali ini yes means yes. No means no. Biasanya kan orang Jepang tidak mau menyakiti hati orang lain. Maksudnya No tapi yang dia ucapkan adalah yes. I feel guilty when i say No !.’

Sulit dipahami kan?

Urusan telor semacam itu di-Indonesia hanyalah persoalan kecil. Sepele banget. Tinggal goreng sreng-sreng-sreng, selesai. Habis perkara.

Tapi, jika kita memahami orang Jepang, mungkin akhirnya kita bisa nrimo. Disiplin yang tinggi memang menjadi ciri yang kuat dari orang-orang Jepang. Kadang terasa terlalu kaku ketika konteks-nya telor tadi.

Teman saya tidak jadi sakit hati manakala kami mencoba memahami jalan pikiran waiter dan sang manajer termasuk, sistem yang sudah berjalan baik di-negeri matahari terbit itu.

Kami jadi geli saat membayangkan ketika restoran tutup nanti, manajer harus mempertanggungjawabkan mengapa ada satu telor yang ” hilang ” atau tidak klop dengan menu yang terjual hari itu.
Lalu bagaimana memasukan penjelasan soal

“telor yang lompat ke-menu lain “,

yang tidak bisa dilacak oleh komputer yang sudah diprogram?

Artinya, satu telor menyimpang dari jalurnya saja akan cepat ketahuan dan harus bisa dipertanggungjawabkan. Setiap orang tidak bisa dengan mudah melakukan penyimpangan dari sistem dan prosedur yang sudah ada.

Saya mungkin terlalu mengada-ada ya?

Bahkan saya dan teman jadi tertawa berdua, ketika berimajinasi bahwa setelah restoran tutup, sang manajer dan semua staf akan melakukan evaluasi, termasuk membahas bagaimana memecahkan permintaan aneh dari tamu tadi siang.

Namun, setelah mereka tahu bahwa tamu yang aneh tadi berasal dari … ” Oh Indonesia….”, mereka lalu menyimpulkan tidak perlu dibahas lebih lanjut karena sang tamu memang berasal dari negara yang

” semua bisa diatur “,

dimana orang-orangnya terbiasa melakukan penyimpangan.

Jadi, rapat di-restoran Jepang itu, akhirnya memutuskan jangan sampai “virus” berbahaya itu mereka akomodasi dan merusak sistem dan prosedur yang sudah mereka yakini dan jalankan selama ini dengan disiplin yang tinggi.

Tidak mudah melakukan penyimpangan di-negara yang tertib.

Begitulah pesan moral dari persoalan telor tadi. Tak heran jika sepanjang berada di-Jepang, semua serba tertib. Pada saat naik metro, menyeberang, naik eskalator, antri taksi, bayar di-kasir, masuk restoran, dan kegiatan di-ruang publik lainnya, serba tertib.

Hidup rasanya sangat aman dan nyaman. Tidak ada dominasi yang kuat mengalahkan yang lemah. Tidak ada saling sikut menyikut, apalagi saling colong menyolong !.

Hidup kok jadi indah ya?

Masalahnya, hidup ini memang memilih. Kita mau yang mana. Bangsa Jepang bisa bangkit menjadi bangsa yang besar seperti sekarang ini, karena mereka memilih disiplin sebagai fondasi. Mereka meyakini disiplin yang tinggi merupakan kunci untuk maju.
Jadi, urusan telor yang rumit tadi, kalau dilihat dari kacamata orang-orang Jepang, tentu jadi rumit karena masuk kategori penyimpangan.

Saya dan teman saja yang kebetulan salah tempat. Andai waktu itu kami berada di-sebuah warung di-Indonesia, soal telor tadi urusan sepele. Semua bisa diatur di-negeri ini. Semua bisa be-TELOR disini. Yang haram jadi halal, yang gampang jadi susah yang susah jadi tambah susah !, tambah kusut tambah bundet peteng ndedet.

Tapi right or wrong, Indonesia is my lovely country Loh !

I love you, Indonesia….

Copyright © 2006 Website Team Kick Andy. All rights reserved

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s