” Kampak Merah “

Konon khabar-nya, pada suatu hari yang indah dan cerah, adalah seorang TuKang Kayu yang sedang asyik sekali menebang kayu di-hutan-belantara Kalimantan-Borneo Indonesia tercinta, yang dulu-nya sangat lebat, kata orang. Tapi syang, kini sudah hampir gundul di-babat oleh orang-orang rakus yang tak punya kemaluan. Kecil kemaluan-nya, sangat kecil memang.
Ya memang mereka itu banci dan tak bertanggung-jawab. No wonder, banjir everywhere. Hhhmmm….bener juga ya.

Saking keras-nya ayunan kampak si-tuKang-Kayu, maka keringat-nya pun mengalir deras dan muncrat ke-atas keras banget persis seperti air mancur di-depan bunderan HI nun jauh di-sana, di-ibu-kota di-pulau Jawa.

Eh… tanpa di-sengaja tentu-nya, tau-tau kampak-merah-nya terjatuh kecemplung jurang. Si-tukang kayu-pun seketika menjadi sangat bersedih hati , sedih banget dan dia menangis sangat kenceng sambil meraung-raung gak karuan mirip anak kecil.

Kenapa bisa begitu?

Soal-nya kampak itu adalah satu-satu-nya Asset-Bangsa yang dia miliki, sudah butut dan tua banget umur-nya, barang antik. Ya barang-nya antik banget dan hanya bisa dibeli dipasar loak, di-jl.Surabaya, Menteng, Jakarta. Itu-pun kalo belom laku dibeli oleh turis2 asing lho.

Pas dia lagi asyik-asyik-nya sedih, eh tau-tau, se-konyong-konyong datang-lah seorang malaikat dari atas langit biru yang cerah.

Malaikat : ” He..tuKang-Kayu, kenapa kamu kok keliatan sedih banget sih? “.

TuKang kayu : ” Iya nih Kat, kampak saya satu-satu-nya jatuh ke-cemplung jurang, gimana saya bisa nebang pohon lagi ? Wong kampak-nya sudah gak ada dan juga gak ada banyak lagi pohon yang bisa di-tebang. Gimana dong ? “.

Malaikat : ” Oh…..gitu toh?. Ok sekarang kamu jangan sedih lagi ya…. saya akan bantu ngambilin kampak-mu. Kampak Merah yang kecemplung di-jurang sana “.

Kemudian Malaikat itu tiba-tiba terbang persis seperti helikopter tempur di-filem2 RAMBO I mau-pun RAMBO II, turun ke-bawah jurang.

Kali ini rupanya Malaikat ingin mengetes ke-jujur-an si-tukang kayu tersebut dengan memberikan kampak yang jauh lebih bagus. Kampak pertama yang di-beri-kan adalah kampak emas bertatah-kan emas intan berlian.

Malaikat : ” tuKang-Kayu ini kampak-mu apa bukan ? “.

Tukang kayu : ” bukan…bukan Kat , kampak saya jelek kok “.

Kemudian Malaikat tersebut ngasih kampak yang ke-dua yang terbuat dari perak plus voucher sepuluh juta untuk belanja di-supermarket mana-pun di-negara ini.

Kata si-tuKang Kayu : ” bukan juga, kampak yang saya punya sudah jelek. Jelek banget lagi pula gak pake voucher belanja segala “.

Malaikat tersebut senyum lebar dan seneng bukan maen karena tuKang Kayu ini jujur banget, saat ini di-sini, di-negara ini, jarang ada orang jujur kayak dia ini., walau-pun dia hanya-lah seorang Tukang-Kayu biasa, yang sudah biasa dan bosan hidup miskin.

Bukan maen. Gumam-Malaikat dalam hati.

Kemudian Malaikat ngomong lagi : ” He tukang kayu, karena kamu jujur maka saya akan kasih kamu hadiah gratis tanpa di-undi, 3 buah kampak-merah yang masih baru yang di-impor dari negara tetangga “.

Tukang Kayu seneng banget, sampe-sampe gak sempat meng-ucap-kan thank you kepada sang Malaikat penolong-nya. Dia kemudian buru-buru lari kencang, pulang ke-rumah-nya.

Se-sampai-nya di-rumah, si-tukang kayu langsung cerita sama anak-anak dan istri-nya. Orang sekampung, orang seisi kota, entah dari mana sumber-nya, tiba-tuba kabar ini tersebar luas keseluruh penjuru kampung, kecamatan, kabupaten dan kota-kota di-sekitar-nya.

Semua-nya ikut-ikutan heboh. Percaya gak percaya.

Kesokan hari-nya si-tukang kayu, anak-anak dan istri-tersayang-nya, disertai rombongan yang terdiri dari Pak Gubernur, Bupati, Camat, Lurah, Sekwilda dan seluruh jajaran-nya, rame-rame kayak mau nganterin orang naek haji, ikut-ikutan nganterin tuKang Kayu pergi kehutan untuk melihat tempat dimana tuKang-Kayu tsb ketemu dengan Malaikat penolong yang baik hati.

Saking heboh-nya, si-istri tuKang-Kayu jatuh kesrimpet dan ke-pleset masuk ke-jurang.

Tentu saja si-Tukang-Kayu menjerit kuat-kuat, kaget banget dan juga sedih banget. Istri tersayang satu-satu-nya ( harap maklum, dia anti banget ama Polygami) jatuh ke-cemplung jurang.

Aneh bin ajaib, tau-tau-nya, secara mendadak, tanpa di-undang ujug-ujug sang Malaikat penolong itu datang lagi dari atas langit disertai cahaya warna-warni yang sangat terang-benderang dan angin yang semriwing maring kuping dan kepenak maring awak.

Malaikat : ” Lho..kamu kenapa, kok sedih lagi sih ? “.

Tukang kayu : ” Iya nih Kat, istri saya jatuh ke-cemplung jurang, saya sedih banget karena dia istri saya satu-satu-nya. Walaupun rada-rada kriput dan krempeng dan gak keren-keren amat tapi saya amat-sangat mencintai-nya. Sungguh. Swear “.

Terus tiba-tiba wez-ewez-ewez…Malaikat tsb tanpa disuruh dan tanpa basa-basi langsung terbang ke-bawah jurang untuk meno-long dan mencari istri si-tuKang Kayu.

Malaikat kali ini kayak-nya ingin ngetes lagi sampe dimana nih ke-jujur-an si-tuKang Kayu itu. Mudah-mudah-an dia masih seperti yang dulu. Begitu pikir-nya.

Sang Malaikat kali ini muncul dari dasar jurang dengan membawa,

”Coba-lah Sophia”

sang bintang iklan dan bintang film yang amat seksi dengan pakaian tidur mini yang tembus pandang sekaligus berlengan pendek you can see everything here ,there and everywhere, ke-hadapan si-tuKang Kayu.

Malaikat : ” Hay tuKang Kayu, dia ini istri-mu kan? “.

TuKang kayu : (agak gugup bin kaget banget).. “…hmm, bukan…bukan…eh iya! iya! Iya dia itu istri saya “.

Karena kali ini tuKang Kayu-nya berbohong sang Malaikat-penolong-pun jadi kecewa berat dan sedih banget. Wah gawat nih. Mukanya jadi merah padam, mukanya malaikat, kayak orang aja, kayak kita-kita juga.

Malaikat : (sedih) ” ..kok kamu jadi tidak jujur dan berbohong pada saya sih ? Why ? Why ? Why ? Sum-think Wong ? “.

Tukang kayu (membela diri) : ” Iya..soal-nya kalau saya jujur, nanti saya dikasih 3 istri lagi….. Saya takut mengecewa-kan mereka dan takut dengkul saya jadi kopong. Sorry ya Mal. Maaf ya Kat “.

Menyadari ke-jujuran-nya bahwa si-Tukang-Kayu ini benar-benar bohong tapi mau ngaku-in dosa-nya, maka sang Malaikat-pun puas dan kemudian tanpa di-komando beliau, malaikat, ikut-ikutan ketawa terbahak-bahak kayak orang aja ya. Padahal tadinya gue kira malaikat gak bisa ketawa. Hhhmmm….

” He-he-he-he-he lucu juga kamu ini tuKang-Kayu. Dasar manusia dimana-mana sama aja. Sering2 dengerin ceramah AA Gym dong !!!… …”

Rombongan orang se-kampung termasuk Gubernur dan semua-nya yang hadir di-hutan tsb kelihatan tersentak kaget mereka semua terbengong-bengong sekejap.

Akhir-nya tanpa sadar mereka semua ikut-ikutan ketawa keras-keras. Ngetawain diri mereka sendiri. Dasar bodoh !.

Tuhan ampuni-lah dosa-dosa kami ini semua-nya. Kampak merah yang seharus-nya kami guna-kan untuk menebang pohon sering-kali kami salah-gunakan untuk menodong dan merampok harta milik orang lain yang bukan hak kami.

Kami gak mau kerja keras, tapi Kami ingin cepat kaya dengan cara meng-halal-kan segala yang haram.

Pada-hal kami tau itu dosa. Tapi….apa boleh buat, pada-hal beberapa orang diantara kami sudah cukup kaya, namun pingin tambah kaya lagi.

Dasar serakah!!! kami memang manusia yang serakah. Pada-hal kami-kami ini tau bahwa barang-barang duniawi tidak akan kami bawa mati.

Lantas untuk apa ?

Pada-hal……cuman gara-gara Kampak–Merah. Mangka-nya….
@biz

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s