” Bini Muda..”

PosKota-Senen, 13/11/2006 7:59:11 AM – Rada aneh memang, tapi nyata, perjalanan nasib bini muda dari Puerto Rico – Banyumas yang satu ini. Umum-nya kan bini muda selalu di-manja-kan oleh suami-nya. Tapi Salimah, 35 thn, justru tidak, dia malahan di-nomer-dua-kan. Ibarat kata, meski “bonggol” lebih banyak jatah-nya, tapi “benggol”-nya jarang diberi.

Hal ini tentu saja membuat Salimah cemburu buta dan dendam kesumat stadium empat. Ketika ke-sabaran-nya habis di-titik nadir, Suminah, 40 tahun, madu-nya tersebut langsung di-jiret stagen sret-sret-sret hingga check out binti wasalam sebelum waktu-nya.

Ini kisah lelaki yang paling pede se-Jawa Tengah. Bagaimana tidak?

Orang lain untuk bisa beristri dua harus jadi Ustad – Da’i Kondang atau juragan ayam bakar atau bahkan harus jadi Camat atau Lurah dulu, lha Daslim, 45, ini tidak.

Dia sakti, barangkali. Meski profesi-nya cuman tukang jualan kelapa, tapi dia dengan gagah perkosa brani-brani-nya berbini sampai dua orang. Ngikutin sunnah nabi, kata-nya, sambil senyum-senyum.

Yang pertama Suminah dari Desa Kalisari dan yang kedua Salimah warga Desa Sokawera. Kedua-duanya masih satu Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas.

Nyaman kali punya bini dua. Dalam urusan ranjang “sparepart” selalu ter-jamin, karena ada ban-sereb, cadangan. Cuma, karena profesi-nya jualan kelapa, Daslim suka dengkul-nya jadi kesemut-an alias gempor.

Bayangin aja, siang hari udah begitu banyak manjat pohon ke-lapa, eh malam-nya harus “manjat” pohon buah yang lain lagi. Untung-nya si-Daslim ini memang ahli panjat memanjat, karena ketika remaja dulu sudah sering jadi juara panjat pinang 17 Agus-tusan.

Dalam soal berbini dua, si-Daslim memang mengacu kpd azas – Go Public – yaitu transparansi alias keterbukaan. Selain “buka-buka-an” sebagai kenis-caya-an, dia selalu berterus terang akan sta-tus diri-nya. Kepada Suminah istri pertama-nya, dia terus terang ketika hendak menikah lagi. Sebalik-nya pada Salimah istri kedua-nya, sebelum menikah Daslim juga terus terang bilang bahwa dia sudah punya bini.

“Apa rika ora gela rabi karo inyong (apa kamu tak kecewa kawin sama aku),”

kata Daslim tujuh tahun lalu.

Umum-nya wanita normal binti waras, tak sudi punya pesaing da-lam kehidupan rumah-tangga-nya. Demikian pula Suminah saat mendengar Daslim mendeklarasi-kan niat perkawinan-nya. Tapi karena menyadari diri-nya sendiri wanita mandul-gabuk (tak punya anak), terpaksa dia merelakan-nya si-suami-nya kawin lagi.

Dalam kepahitan itu dia harus menghibur diri dengan mengatakan:

“tak apalah senjata satu diasah kesana kemari, kan makin tajam jadi-nya!…”.

Akhirnya, si-Daslim tukang jualan kelapa itu jadi juga mengikuti program “slendro pelog”. Karena tergetnya selain enak juga anak, maka ibarat pabrik dia ngebut giling sampai lembur-lembur segala.

Tapi hasil-nya nyata, dalam kurun waktu 7 tahun sudah lahir tiga anak yang lucu-lucu kayak pelawak di-Extravaganza. Dan karena dirumah bini kedua lebih banyak di-namika-nya kehidupan, Daslim-pun cenderung banyak tinggal di-bini muda.

Tapi ternyata, Daslim memang tak bisa berlaku adil dalam pro-gram poligami berbasis kompetisi tersebut. Meski tinggal di-rumah Salimah di-Sokawera, tapi urusan duit lebih banyak dipasok ke-bini tua.

Kasar-nya, benggol jadi hak bini tua, sedangkan bini muda hanya kebagian “bonggol”-nya saja tiap malam. Meski urusan yang satu itu sangat di-perlu-kan, tapi kalau sehari-hari hanya di-jatah, is-tri macam mana-pun pasti protes.

Itulah yang dilakukan Salimah kemudian. Dia cemburu pada madu-nya. Enak aja, yang ngurus Daslim tiap hari diri-nya, kok duit-nya malah mengalir ke-bini tua.

Memang-nya anak-anak mau dikasih makan tumbukan bata merah?

Mereka kan juga perlu biaya sekolah, biar jadi orang pinter. Biar jadi sarjana, jadi orang yang kreatip, tidak hanya mengandalkan peker-jaan antri ujian CPNS.

Kecemburuan dan kedongkolan Salimah mengkristal ketika dia me-nyuruh Daslim menjual kambing untuk biaya anak-anak, eh uang per-olehan-nya malah diberikan pada Suminah istri tua. Kontan emosi-nya meledak. Hari itu juga Salimah melabrak ke-bini tua di-Desa Kalisari sambil membawa stagen. Begitu melihat situasi rumah sepi, bini perdana Daslim dijerat stagen lalu ke-pala-nya dibenturkan dipan hingga bablas.

“Enak kamu ya, aku hanya dapat kelon-nya, kamu dapat klepon-nya,”

maki Salimah sambil kabur entah kemana.

Agak lega Salimah. Sebab sampai Suminah dikuburkan, tindak ke-jahatan-nya belum terendus. Tapi itu tak lama. Sebab 10 jam se-telah eksekusi ter-sebut, polisi menjemput diri-nya dan diseret ke-Polsek Cilongok.

Berdasar-kan bukti-bukti yang ada, wanita kampung yang seksi dan cantik tetapi buta huruf itu mengaku terus terang telah mem-bunuh madu-nya lewat stagen maut.

Heran!

Buta huruf tapi gak buta duit si-Salimah. Bahasa Inggrisnya Woman and Money is the root of all evil.

Sayup2 dari radio di-Polsek terdengar lagu barat romantis dengan syair sbb :

Love…I promise you. I will never hurt you. I will treat you right
I will always listen. I will always respect you
I’ll show you Love. I’ll give you patience
I will be your friend.. I promise !!!……..

Ternyata,…..Gombal !.

Jagalah anu-mu sebelum anu-mu anu….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s