Tarekat Tasauf

Motif tarekat tasauf adalah:  

“ Ilahi !  Engkau jualah tujuanku. Keridhoan Engkau jua yang daku cari ”.

 Tarekat tasauf menjurus sepenuhnya kepada usaha kita untuk :

1.      mendekat-kan diri kepada Allah SWT,
2.      meng-abdi-kan diri kepada-Nya sebaik mungkin dan
3.      mengenali-Allah SWT sebagaimana layaknya.

Pokok dari ajaran tarekat tasauf adalah untuk men “ suci “ kan hati. Syarat penyucian hati yang pertama adalah :  Taubat secara Lahir dan Batin.

Taubat lahir berkaitan dengan :
·        perkataan,
·        perbuatan,
·        perasaan,
·        menghindarkan diri dari dosa dan
·        memperbanyak kebaikan.

Taubat batin berkaitan erat dengan rohani, mengembalikan sikap rohani kita kepada tahap kesucian-nya yang semula, yaitu bersih tanpa noda dan tanpa dosa.Keterkaitan antara rohani dengan jasad dan dunia akan melahirkan tenaga, baik yang positif maupun negatif.

Tenaga negatif itu munculnya dari nafsu. Nafsu yang asalnya bersifat baik, kini sudah di-kuasai oleh sifat-sifat buruk. Nafsu yang pada asalnya menghadap kepada Tuhan kini telah berpaling menghadap kepada yang bukan Tuhan.

Dasar dari taubat batin adalah membawa nafsu kembali ke-asal-nya semula, yaitu mengarah kepada Tuhan. Rantai yang menyeret nafsu kearah yang salah harus segera di-putus-kan. Tiga daerah nafsu yang perlu diketahui adalah :

1.      Ammarah,

2.      Lawwamah dan

3.      Mulhamah.

Rantai yang mengikat nafsu di-dalam daerah nafsu ammarah ini adalah nafsu yang paling kasar dan paling kuat. Pengikat nafsu di-daerah ini adalah sifat-sifat yang tidak terpuji seperti :

1.      Sombong,

2.      Ujub,

3.      Riya dan

4.      Sama’ah.

Sifat-sifat tersebut membuat manusia merasa dirinya lebih baik, lebih mulia dan lebih cerdik dari pada orang lain. Suka menunjuk-nunjuk dirinya sendiri, suka dipuji-puji dan suka namanya menjadi terkenal.

Di-daerah ini tidak-ada nilai-nilai murni kemanusiaan dan tidak ada peraturan. Orang yang berada didaerah ini sangat tamak akan harta. Tidak peduli dari mana sumber harta itu diperolehnya.

Nafsu yang berada di-daerah ammarah ini suka :

·        berdengki,

·        berdendam,

·        ber-khianat dan

·        berangan-angan.

Dia sering merasa apa yang di-angan2-kan akan diperolehnya walaupun sebenar-nya dia tidak mampu.Orang yang dibungkus oleh nafsu ammarah suka menggunakan dua cara penilaian.

·        Bagi diri-nya digunakan cara positif dan

·        untuk orang lain digunakan cara negatif.

Dia mengatakan orang lain mengumpat tetapi bagi diri-nya, perkara yang serupa dikatakan mengata-kan yang benar. Orang lain dikatakan berdengki tetapi buat dirinya dikatakan mempertahankan yang hak.

Orang lain dikatakan bakhil tetapi buat dirinya tidak. Sikap yang demikian itu akan menutup pandangan-nya dari keburukan, kejahatan dan ke-cacad-an yang ada pada dirinya sendiri.

Dia telah dikuasai oleh perasaan bahwa dialah manusia yang paling tahu dan paling sempurna.

Dia merasa bahwa surga itu ada-lah hak-nya, sekali-pun dia tidak pernah melakukan kebaikan.Perasaan yang demikian itu akan muncul karena sifat ammarah ini tidak menghalangi seseorang untuk menggunakan ilmu yang bersangkutan dengan kehidupan dunia.

Ia telah menutup ilmu tentang Tuhan dan tentang akhirat.

Kemampuan untuk menggunakan ilmu dunia membuat dia berhasil / sukses dalam kehidupan-nya, dia mungkin dapat menjadi seorang cendekiawan ataupun berhasil menjadi pemimpin masyarakat. Dia juga boleh mempelajari ilmu agama dan menjadi ahli dalam bidang tersebut.

Tetapi ilmu tersebut tidak akan berdaya untuk menyelamatkan dirinya karena dia sombong.

Dia marah jika mengetahui orang lain berguru dengan orang alim yang lain. Dia suka mengeluarkan pernyataan yang merendahkan ilmu orang lain.Dia merasa dirinya adalah ahli agama yang sempurna, ahli Surga yang tidak akan dihisab, sudah mencapai makrifat sementara orang lain dianggap tidak sempurna, ahli neraka dan belum mencapai makrifat.

Tarekat tasauf mengajarkan manusia supaya :

·        membina kekuatan dalam berjihad menentang sifat nafsu ammarah dan

·        membebaskan diri dari ikatan rantainya.

Kekuatan bathin diperoleh dengan cara mengingat Allah SWT sebanyak mungkin. Pada peringkat pemula ingatan kepada Allah SWT harus di-lakukan dengan paksaan dan hanya berlaku secara luar saja yaitu dengan mengucapkan nama-nama Tuhan ber-ulang2 dan menyebutkan-nya keras-keras, kuat-kuat, sehingga menambah kesadaran terhadap-Nya.

Ingatan kepada Tuhan yang dilakukan secara terus-menerus akhirnya akan masuk kedalam kalbu atau hati.Tahap selanjut-nya adalah mengingat nama Tuhan didalam hati, tidak perlu lagi menyebutkan-nya keras-keras.

Ucapan dan ingatan kepada nama-nama Tuhan yang jumlahnya ada 99, akan membuat hati kita terjaga dari tidur dan sadar akan kelalaian.

Hati kita akan mendapat kekuatan untuk berperang melawan tentara ammarah. Maka terjadi-lah peperangan antara sifat yang baik dengan sifat yang jahat. Peperangan ini terjadi di-daerah nafsu lawwamah. 

Senjata tentara lawwamah adalah :

·        taat kepada peraturan syariat,

·        rajin beribadat dan

·        menyibuk-kan lidah dan

·        hati berzikir kepada Allah SWT.

Hati yang sudah terjaga dari tidurnya akan mampu berfungsi sebagai juru nasihat pada dirinya sendiri. Bila terjadi kesalahan atau dosa, maka akan berdetiklah peringatan didalam hati dan orang yang bersangkutan akan cepat menyesal dan bertaubat.

Bila hati bertambah kuat, juru nasihat dalam diri juga akan bertambah kuat.  Ia tidak akan mau untuk berbuat dosa.Walaupun demikian, ketika kita berada didalam daerah lawwamah, kita masih mempunyai kemungkinan untuk melakukan perbuatan dosa, sekalipun kita telah berusaha sekuat-mungkin untuk mencegahnya. Ini disebabkan karena sebahagian dari rantai-rantai ammarah masih belum putus seluruhnya dari daerah lawwamah.

Rantai-rantai tersebut adalah:

1.      Sombong,

2.      Ujub,

3.      Riya dan 

4.      Samaah.

Sifat kebaikan yang muncul didalam daerah lawwamah adalah :

1.      Mengakui kesalahan diri sendiri,

2.      Menyesal  dan

3.      Bertaubat.

Orang yang berada didalam daerah lawwamah akan sangat gemar untuk bertafakur, me-renungkan sesuatu dan mengaitkan-nya dengan Kodrat Tuhan.

Ingatan-nya kepada Allah SWT akan masuk kedalam hatinya sehingga dia dapat merasakan nikmatnya berdzikir. Dzikir yang telah masuk kedalam hati akan menguatkan dan melembutkan hatinya.

Kuat dalam melawan yang salah dan cepat menyesalinya. Ahli nafsu lawwamah banyak menangis apabila teringat akan dosa-dosa yang pernah diperbuatnya pada waktu yang lalu. Dia juga mudah sekali menangis ketika beribadat. Suasana hati yang menguasai ahli lawwamah ini adalah  ‘ takut akan Allah. ’

Perhatian-nya lebih tertuju kepada Akhirat dan Surga dari pada kenikmatan duniawi. Dia bekerja sungguh-sungguh untuk menghapuskan segala bentuk kesalahan. Dia selalu ingin bertaubat dan memohon ampunan Allah SWT. Dia tidak pernah memperhatikan kesalahan orang lain. Perhatian yang demikian ini akan membuatnya tidak pernah merasakan bahwa dirinya lebih baik dari pada orang lain.

Semakin jauh seseorang itu memasuki daerah lawwamah, maka akan semakin berkurang pengaruh amarah pada dirinya.

Apabila sampai kesatu peringkat dimana rantai amarah putus darinya maka dia akan masuk kedalam daerah nafsu mulhamah. Nafsu mulhamah adalah nafsu yang bersih dari kotoran. Bila kotoran tidak ada pada hati, maka fikiran kotor tidak akan datang lagi dan yang akan mengambil alih tempatnya adalah ilham yang bersih, ilham yang suci yang datangnya dari alam yang lebih tinggi.

Cermin hatinya yang kerap-kali menghadap kepada alam yang tinggi membuatnya sering lupa kepada alam yang rendah. Dia tidak berminat dengan harta, merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak me-rasa sayang untuk menolong orang lain. Dia juga melakukan taubat yang sungguh-sungguh dan tidak kembali lagi kepada kejahatan yang pernah dilakukan-nya. Dia memiliki kesabaran yang kuat dalam meng-hadapi segala macam bencana. Dia kuat berserah diri kepada Tuhan. Dia menghadap kepada Tuhan dengan merendahkan diri dan berhajat kepada-Nya.

Sifat merendahkan diri yang sudah lahir dalam hatinya akan membuatnya tidak lagi suka mengkritik orang lain secara sembarangan. Dia lebih memandang orang lain dengan pandangan simpati, bukan mengutuk. 

Dzikir-nya sudah masuk kedalam lubuk hatinya yang paling dalam yang akan menguatkan rasa ketergantungan-nya semata-mata hanya kepada Allah SWT saja.

Apabila keikhlasan ahli mulhamah ini sudah semakin bertambah kuat maka dia akan melakukan kebaikan bukan lagi karena ‘takut akan Allah’ akan tetapi semata-mata ha-nya‘karena Allah’ atau karena ingin mendapat-kan keridloan-Nya.

Orang yang sudah berada pada tahap ini akan terus-menerus mentaati semua perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-nya, sekalipun Tuhan tidak menjadikan Surga dan Neraka.

Keyakinan-nya hanya kepada Allah SWT semata-mata. Keyakinan-nya kepada Allah SWT sudah sangat mendalam, sebab itu dia sangat kuat melakukan tajrid, yaitu menyerahkan segala urusan-nya hanya kepada Allah SWT saja, tidak kepada yang lain. Dia telah berada pada tahap yang di-ridlo-i oleh Allah SWT.

89. 27. Wahai jiwa yang tenang.

89. 28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

89. 29. Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hamba-Ku,

89. 30. masuklah kedalam syurga-Ku.

Wahai nafsu muthmainnah, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridlo meridloi oleh-Nya dan masuk-lah engkau kedalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuk-lah engkau kedalam Surga-Ku.

Ayat 27 – 30 : Surah al-Fajr .Jiwa muthmainnah akan tenang dan tenteram didalam melakukan ketaatan kepada Allah SWT.

Perbuatan-nya dan kelakuan hatinya semata-mata ditujukan hanya kepada Allah SWT saja.

Dia menyayangi makhluk Tuhan, suka bersedekah, tidak menyimpan harta, ridlo dengan ketentuan Allah SWT dan bertawakal kepada-Nya dalam segala perkara.

Dia hidup diatas landasan takwa, kuat beribadat dan mensyukuri semua pemberian Tuhan.

Dia sudah melepaskan makam sabar dan masuk kepada makam ridlo, maka tidak ada apa-apa lagi yang dapat menekan jiwa-nya.

Cahaya ketenangan muncul pada wajahnya. Dia sudah dapat mengalami Hadirat nama-nama Tuhan.

Kesadaran dan ingatan terhadap nama-nama Tuhan mendatangkan kenikmatan dan kelezatan pada hati-nya.Kedekatan-nya dengan Tuhan membuat diri-nya senantiasa bersama-sama dengan-Nya, maka tidak ada perasaan apa-apa lagi yang dapat menakutkan dan menduka-citakan-nya.

Daerah muthmainnah ini di-nama-kan daerah kewalian peringkat permulaan atau wali kecil.

Manusia rohani memiliki sifat-sifat yang pada awal mula-nya sangat baik, yaitu sifat kemanusiaan. Apabila seseorang meninggalkan daerah-daerah ammarah, lawwamah dan mulhamah kemudian masuk kedalam daerah muthmainnah, artinya dia telah meninggalkan daerah – sifat kemanusiaan dan masuk kepada daerah – sifat rohani.

Lenyapnya sifat kemanusiaan di-namakan kefanaan. Bertambah kuatnya sifat rohani yang menguasai dirinya akan menambah kekuatan kefanaan yang dialaminya.

Terlepasnya sifat kemanusiaan pada waktu mengalami suasana Hadirat Ilahi menyebabkan orang yang ber-sangkutan akan menyandarkan segala-galanya hanya kepada perbuatan Tuhan saja.

Orang yang dalam keadaan demikian dapat menyaksikan Hadirat Tuhan melalui alam maya ini. Oleh sebab itu dia menyerah bulat-bulat atau pasrah total kepada kekuasaan Tuhan.

Dalam daerah muthmainnah Hadirat Tuhan yang dialami oleh hati-manusia menyatu sebagai Nama-nama-Nya yang banyak.

Setelah dia masuk kepada daerah yang lebih dalam lagi, maka hatinya akan mengalami keadaan dimana Hadirat nama-nama yang kelihatan banyak itu sebenarnya adalah Ha-dirat yang satu, yang berkuasa menentukan segala perkara, tidak ada yang lain, selain Tuhan yang memiliki kuasa.

Daerah ini di-nama-kan nafsu radhiah. Suasana hati ahli nafsu radhiah adalah sangat teguh meridloi apa saja takdir Tuhan.

Baginya bala dan nikmat adalah sama saja, sama-sama takdir Tuhan. Orang radhiah sangat kuat merasakan kehadiran kuasa ghaib mengawal segala kelakuan dan tindak-tanduknya.

Perbuatan yang keluar dari dirinya terjadi secara spontan tanpa dia ikut campur-tangan sedikit-pun.Keadaan-nya sama-lah seperti keadaan orang yang melihat dirinya didalam mimpi. Dia tidak ikut campur-tangan dalam kelakuan dirinya yang terjadi didalam mimpi itu. Dirinya yang didalam mimpi melakukan sesuatu tanpa berfikir dan merancang, tidak terikat dengan dirinya yang diluar mimpi.

Apabila diri yang di-dalam mimpi itu menjadi sangat kuat, diri yang diluar merasakan dialah diri khayalan dan diri yang didalam mimpi itulah diri yang sebenarnya.Kelakuan orang radhiah tidak lagi terpengaruh oleh fikiran, perasaan dan hukum logika. 

Tutur katanya berbunga-bunga, sukar dimengerti dan kadang-kadang perkataan-nya menyinggung perasaan orang lain. Biasa juga terjadi dia mengeluarkan ucapan yang menyalahi syariat. Dia tidak lagi mengindahkan peraturan masyarakat. Tingkah lakunya dapat menyebabkan orang lain menyangkanya sudah  GILA “.

Apa yang ada di-hati-nya adalah segala perkara yang datang-nya dari Tuhan. Dia mengembali-kan segala perkara kepada Tuhan. Apapun kebolehan dan kehebatan yang di-peroleh-nya selalu di-sandar-kan-nya hanya kepada Tuhan semata.

Orang radhiah me-ngalami rasa kegilaan kepada Allah’ pada tahap yang paling tinggi. Suasana hati-nya di-istilah-kan sebagai dalam Allah.’  Dia fana didalam lautan takdir.

Setelah sampai pada titik puncak-nya, derajat kefanaan-nya mulai menurun. Peringkat kefanaan ini dinamakan nafsu mardhiah. Dalam proses menuju radhiah seseorang itu terpisah daripada sifat kema-nusiaan dan kewujudan alam maya.

Dia sudah bisa melihat sifat kemanusiaan yang menumpang pada wujud rohani dan sudah bisa menggunakan sifat dan bakat tersebut. Bila sifat kemanusiaan sudah kembali dia dapat menyaksikan wujud alam maya dan makhluk disekelilingnya.

Walaupun dia sudah berada dalam daerah mardhiah, kesan kefanaan belum terhapus seluruhnya. Dalam suasana tersebut hatinya kekal dengan Allah SWT Walau-pun dia masih bisa bergaul dengan orang lain tetapi dia lebih suka menyendiri dan tidak mau berbicara atau melakukan sesuatu perbuatan yang sia-sia. Dia sudah mengatur kehidupan sehari-harinya. Ucapan yang menyalahi syariat tidak keluar lagi dari mulut-nya.

Di-daerah mardhiah se-seorang itu mendapat kesadaran sepenuh-nya tentang keaslian rohani-nya. Perjalanan kerohanian bukanlah seperti perjalanan dari satu tempat ketempat lain. Ia merupakan perubahan kesadaran mengenai hakikat jati diri-nya sehingga dia memperoleh kesadaran sepenuhnya tentang keaslian, kemurnian diri-nya.

Dalam melalui proses perubahan kesadaran itu dia akan mendapatkan pengetahuan tentang Tuhan. Dia juga akan memperoleh kesadaran mengenai roh yang paling latif yang dipakai oleh tubuh atau badan yang nyata (jasmani).

Orang mardhiah yakin bahwa dia diciptakan untuk tujuan yang khusus tetapi dia belum menerima amanah untuk memikul tugas yang menjadi beban-nya (belum tahu apa yang harus dilakukan)

Oleh karena itu keadaan-nya adalah seumpama orang yang sedang menunggu kendaraan umum di-stasiun atau di-terminal BUS-WAY. Dia siap untuk melakukan sesuatu dan siap pula untuk me-ninggalkan-nya apabila datang ‘perintah’ untuk pergi ke-suatu tempat. Suasana hati yang seperti inilah yang akan membuat orang mardhiah kembali kepada kehidupan dunia-nya tanpa alasan yang jelas. Sebenarnya kesan kefanaan yang sangat kuat pada peringkat radhiah masih menguasai hatinya.

Kesan tersebut membuatnya masih ‘menanti-nantikan’ sesuatu yang dia sendiri tidak tahu pasti. Masih ada tarik menarik di-dalam hatinya diantara kesadaran kerohanian yang diperolehnya dengan kesadaran kemanusiaan yang ada pada dirinya.

Dia merasa keberatan untuk memasuki rumah-nya sendiri yang telah lama di-tinggal-kan, dimana rumah itu dalam keadaan sepi dan gelap gulita. Dia akan terus bimbang dan ragu sampai dia yakin betul bahwa sudah ada cahaya yang mampu menerangi rumahnya. Apabila dia telah menerima rumah-nya dengan sepenuh jiwa raga dan dia memasuki rumah itu, maka akan me-mancarlah didalam-nya cahaya yang terang benderang. Dia mulai bekerja di-dalam rumah tersebut.

Keadaan-nya seumpama nabi Adam a.s yang ridlo dengan bumi ini yang akan menjadi tempat kediaman-nya, tempat kematian dan tempat dimana dia akan di-bangkitkan nanti.Dan katakanlah:

“Wahai Tuhanku! Masuk-kan daku dengan kemasukan yang baik dan keluarkan daku dengan keluaran yang baik dan jadikanlah untuk-ku langsung dari Engkau satu kekuasaan yang menolong”.

Dan katakana-lah:

“Telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan; sesungguhnya yang batil itu pasti-lah di-lenyap-kan” ( Ayat 80 & 81 : Surah al-Israa’ @ Bani Israil ). 

Pada hari yang akan diganti bumi ini dengan bumi lain dan semua langit juga, dan akan tampil mereka ke-hadapan Tuhan, Allah, Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Dan akan engkau lihat orang-orang yang berdosa itu terikat dengan belenggu-belenggu.( Ayat 48 & 49 : Surah Ibrahim ) .  Dia campak-kan Roh dari urusan-Nya kepada siapa-pun yang Dia kehendaki dari kalangan hamba-hamba-Nya.  ( Ayat 15 : Surah Mu’min ) 

Dan Kami telah perkuatkan dia (Isa) dengan Roh Kudus ( Ayat 87 : Surah al-Baqarah ).Khalifah Tuhan berkecimpung dalam kehidupan masyarakat sebagaimana anggota masyarakat yang lain. Kerja utama mereka adalah membimbing manusia ke-jalan Allah SWT.

Di-samping itu mereka juga menjalankan kewajiban terhadap diri dan keluarganya. Mereka melakukan pekerjaan karena mentaati perintah Allah SWT.Khidmat mereka kepada masyarakat adalah khidmat mereka kepada Tuhan.

Kasih mereka kepada Tuhan disebarkan kepada makhluk Tuhan. Ketaatan mereka kepada Tuhan di-tunjuk-kan dengan memberi bantuan kepada makhluk Tuhan. Mereka adalah wakil Tuhan yang bertugas mengurusi makhluk Tuhan di-dunia ini. Itulah pekerjaan Nabi Adam a.s dan keturunan-nya yang dipilih dari masa-kemasa untuk meneruskan pekerjaan tersebut.

Daerah-daerah nafsu merupakan stasiun kerohanian disepanjang perjalanan. Stasiun atau terminal kerohanian tidak seharusnya dipandang sebagai makam ketinggian dan kemuliaan. Tuhan tidak melihat kepada stasiun-stasiun kerohanian tsb tetapi Tuhan melihat kepada takwa. Takwa yang benar hanya dapat di-sempurnakan di-dalam kehidupan nyata sehari-hari, ditengah-tengah masyarakat, bukan diatas gunung atau di-tengah hutan, bukan di-dalam kerohanian yang memisahkan seseorang dengan seseorang yang lain. 

Manusia yang paling mulia, yaitu Nabi Muhammad SAW sendiripun sangat aktif dalam mengayomi kehidupan masyarakat sehari-hari di-dunia nyata.Selain mengajarkan perjalanan kerohanian melalui daerah-daerah nafsu, tarekat tasauf juga mengajarkan perkembangan kesadaran rohani melalui berbagai-bagai peringkat kebatinan.

Suasana kebatinan itu dinamakan : Latifah Rabbaniah, yaitu unsur ghaib yang merupakan urusan Tuhan yang tidak mampu difikirkan oleh manusia. Latifah Rabbaniah yang tergolong sebagai Diri Batin adalah :

1)      Latifah Kalbu,

2)      Latifah Roh,

3)      Latifah Sir,

4)      Latifah Khafi,

5)      Latifah Akhfa,

6)      Latifah Nafsu Natiqah dan

7)      Latifah Kullu Jasad.

Latifah Kalbu adalah hati nurani. Ia menjadi raja yang memerintah sekalian anggota dan tubuh ma-nusia.  Ia menjadi induk bagi semua latifah yang lain. Kalbu atau hati itulah yang menjadi perhatian Allah SWT. Jika baik hatinya akan baiklah seluruh anggota badan, dalam jiwa yang sehat terdapat badan yang kuat, bukan sebaliknya. Hati yang gaib dikaitkan dengan hati sanubari, yaitu jantung yang terletak di-dalam dada sebelah kiri, kira-kira dua jari dibawah tetek. Jika kita letak-kan jari pada tempat tersebut maka kita akan merasa-kan denyutan-nya. Denyutan jantung akan memberi peringatan kepada manusia bahwa dia masih hidup karena ada-nya dukungan Latifah Kalbu yang menerima kurnia dari Allah SWT. Sedangkan kalbu atau hati dibungkus oleh alam perasaan yang berbolak-balik, tidak tetap sifatnya, kadang begini kadang begitu alias plin-plan PLINTAT-PLINTUT.

Kesungguhan beribadat dan berdzikir akan membebaskan Latifah Kalbu dari hijab alam perasaan yang menutupinya. Bila Latifah Kalbu telah bebas dari tutup alam perasaan ia akan menghadap kepada alam ghaib dan menerima ilham yang bebas dari bisikan syaitan.

Kesadaran kebatinan pada tahap Latifah Kalbu membuat hati merasakan jalinan yang erat dan unik dengan Kenabian Adam a.s atau dapat juga di-katakan bahwa hati mengalami suasana Hakikat Adamiyah.

Perjalanan Nabi  Adam a.s menjadi pedoman untuk bertaubat dan membersihkan hati dari segala dosa dan kekotoran. Kesadaran kerohanian yang berhubungan erat dengan kenabian Adam a.s itu juga membuka pengertian tentang perjalanan hukum sebab dan akibat.

Kefahaman atau pengertian mengenai perjalanan hukum sebab akibat tsb akan membuat seseorang mengagumi perjalanan kehidupan yang sangat rapih yang telah diatur untuknya oleh Tuhan Yang Maha Besar.

Kesadaran tersebut akan menambahkan keyakinan-nya pada bimbingan yang datang dari Tuhan. Hatinya menjadi bertambah kuat untuk kembali mengingat Tuhan dan dia akan bermujahadah untuk mendapatkan keridloan-Nya.

Keasyikan dalam suasana latifah ini sering membuat mata-hati kita mampu untuk menyaksikan cahaya dan warna di-alam ghaib.

Keasyikan dalam Latifah Kalbu akan membawa seseorang menyaksikan cahaya berwarna kuning yang gemerlapan.

Cahaya latifah yang disaksikan-nya bukanlah cahaya Tuhan dan sekali-kali bukan-lah Tuhan., karenanya kita harus memperbanyak ucapan:  “La ilaha illa Llah ”.

Latifah Kalbu adalah seumpama ruang yang besar, dimana di-dalam-nya terdapat berbagai-bagai latifah lagi. Tahap kesadaran latifah yang lebih mendalam dinamakan

·        Latifah  Roh, atau dikenali sebagai Roh Hewani.

Latifah  Roh atau Roh Hewani itu dihijabkan oleh sifat-sifat keji yang disebut sebagai sifat binatang jinak. Sifat ini akan menyeret manusia ke-jalan yang hanya memuaskan nafsu syahwat seperti hewan, tanpa menghiraukan akibat dan dosa.

Sifat binatang jinak ini-lah yang membuat manusia berani melakukan kesalahan walaupun orang lain yang telah membuat kesalahan yang sama telah menerima akibat-nya.

Orang lain yang telah mati karena penyakit aids tidak menakut-kan binatang jinak untuk terus berbuat maksiat. Orang lain yang sudah dihukum gantung sampai mati karena menjual narkoba tidak menakutkan binatang jinak untuk terus menjual narkoba.

Memang sifat binatang tidak mengenal dosa dan tidak takut kepada penyakit. Tenaga ibadat dan dzikir yang masuk ke-daerah Latifah  Roh akan menghancurkan sifat binatang jinak itu.

Bila sifat tersebut telah hancur , maka akan muncul-lah sifat Latifah Roh yang asli, yaitu gemar beribadat, kuat bertawakal dan ridlo / rela dengan takdir Tuhan.

Kesadaran pada tahap ini (Latifah  Roh) akan membuat seseorang  banyak melakukan ibadat dan berdzikir tanpa merasa penat dan jemu.

Di-daerah ini akan muncul hubungan kerohanian antara Kenabian Ibrahim a.s dengan Nabi Nuh a.s.  ‘Pertemuan’ dengan Hakikat Ibrahimiyah dan Nuhiyah akan menguatkan kesanggupan seseorang untuk berjuang dan berkorban demi mendapatkan keridlo’an Allah SWT.

Keasyikan dalam daerah Latifah  Roh ini akan membawa mata hati kita untuk dapat menyaksikan cahaya yang berwarna merah yang gilang gemilang.

Cahaya latifah  ini juga bukanlah cahaya Tuhan dan sekali-kali bukan Tuhan, perlu dinafikan dengan memperbanyak ucapan : “La ilaha illa Llah ”.

Setelah melewati daerah Latifah Roh seseorang akan mengalami pula suasana kerohanian di-daerah Latifah Sir atau dinamakan Roh Insani.

Latifah Sir atau Roh Insani ini dihijab oleh sifat buruk yang di-nama-kan sifat binatang buas. Sifat tersebut mendorong manusia untuk saling :

·        bermusuhan,

·        melakukan kezaliman,

·        saling mendendam dan

·        saling membenci.

Apabila sifat binatang buas ini berkuasa, maka akan berlakulah penganiayaan, penindasan dan kezaliman yang tidak berperi-kemanusiaan terhadap sesama manusia.

Sifat binatang buas ini mesti dihancurkan dengan tenaga ibadat dan zikir. Bila sifat binatang buas telah hancur maka akan muncul sifat Latifah Sir yang asli yaitu mencintai Allah SWT dengan teramat sangat.

Kesadaran kebatinan pada tahap Latifah Sir inilah yang sering membuat hati gila akan Allah s.w.t hingga ketahap tidak-rasional.

Dalam daerah ini juga terjalin hubungan kerohanian dengan Kenabian Musa a.s. Hakikat Musawiyah membawanya merasakan kedekatan dengan Allah s.w.t dan merasakan nikmat Cinta Ilahi.

Keasyikan dalam daerah ini membawa mata hati menyaksikan cahaya berwarna putih yang gemerlapan.

Cahaya latifah ini juga bukanlah cahaya Tuhan dan sekali-kali bukan Tuhan, karena-nya mesti dinafikan dengan  ucapan: “La ilaha illa Llah ” sebanyak mungkin.

Seterusnya hati akan mengalami suasana Latifah Khafi. Latifah ini dihijabkan oleh sifat syaitaniah yang menerbitkan perasaan dengki, khianat dan busuk hati.

Apabila tenaga ibadat dan zikir yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh dapat menghancurkan sifat syaitaniah, maka akan muncul sifat latifah yang asli yaitu sabar, syukur, ridlo dan tawakal yang sebenarnya.

Kesadaran pada tahap Latifah Khafi ini, akan membuat seseorang mengalami hubungan kerohanian dengan Kenabian Isa a.s atau Hakikat Isaiyah.

Kesadaran di-daerah ini akan menambah kekuatan rohani untuk menghampiri Allah s.w.t, pada tahap ini akan selalu muncul perkara yang luar biasa seperti kemampuan untuk mengobati penyakit dan mempunyai firasat yang tajam, walau-pun bidang-bidang tersebut tidak pernah dipelajarinya.

Keasyikan dalam Latifah Khafi membawa seseorang mampu untuk menyaksikan cahaya hitam yang tidak terhingga.

Cahaya ini juga bukanlah cahaya Tuhan dan sekali-kali bukan Tuhan. Ia mesti dinafikan dengan memperbanyak ucapan : 
“La ilaha illa Llah ”.

Kesadaran kebatinan seterusnya di-namakan Latifah Akhfa yang dihijab oleh sifat Rabbaniah (ketuhanan) yang tidak layak dipakai oleh makhluk.

Sifat tersebut melahirkan rasa sombong, ujub dan ria. Apabila tenaga ibadat dan zikir mampui untuk membebaskan Latifah Akhfa dari sifat Rabbaniah maka akan muncul sifat kebaikan seperti ikhlas dan tawaduk yang sebenarnya.

Kesadaran dalam daerah ini membuat seseorang gemar bertafakur. Dalam kesadaran latifah  ini juga lahir hubungan kerohanian yang erat dengan Kenabian Muhammad s.a.w atau Hakikat Muha-mmadiah.

Orang yang bersangkutan akan mengalami rasa kasih, keasyikan dan kerinduan yang amat sangat terhadap Rasulullah SAW. Ucapan salawat merupakan ucapan yang sangat merdu dan mengasyikan.

Keasyikan terhadap Rasulullah s.a.w dalam daerah Latifah Akhfa ini juga membuat seseorang akan mengalami suasana ‘pertemuan’ dengan rohani Rasulullah s.a.w seperti dalam mimpi.

Hakikat Muhammadiah membawa seseorang memasuki suasana Cinta Allah SWT yang lebih halus, lebih berseni, lebih nikmat serta memperoleh muraqabah atau berhadapan dengan Allah SWT semata-mata, tidak kepada selain-Nya.

Keasyikan pada latifah  ini juga membawa seseorang untuk dapat me-nyaksi-kan cahaya hijau yang gilang gemilang.

Cahaya ini juga bukan cahaya Tuhan dan sekali-kali bukan Tuhan, perlu dinafikan dengan ucapan : “La ilaha illa Llah ”.

Latifah seterus-nya dinamakan Latifah Nafsu Natiqah. Latifah ini juga dikenal sebagai diri yang boleh berfikir.  Nafsu Natiqah dihijab oleh sifat ammarah yang banyak membentuk khayalan dan melahirkan penyakit panjang angan-angan.

Dalam daerah inilah gambar-gambar yang disukai oleh nafsu syahwat ditayangkan. Keinginan kepada kesenangan dan keseronokan dunia berpuncak di-daerah ini.

Apabila tenaga ibadat dan dzikir sanggup meng-hapus-kan sifat ammarah, akan muncul-lah suasana hati yang
tenteram dan fikiran yang tenang.

Gambaran, khayalan dan fikiran jahat yang selalu mengganggu orang yang sedang bersembahyang tidak ada lagi apabila sifat ammarah pada Nafsu Natiqah sudah terhapus.

Keasyikan dalam kesadaran Nafsu Natiqah ini akan membawa se-seorang menyaksikan cahaya yang berwarna ungu yang gilang ge-milang.

Cahaya ini juga bukan cahaya Tuhan dan sekali-kali bukan Tuhan, perlu dinafikan sebanyak mungkin dengan ucapan :  “ La ilaha illa Llah ”.

Latifah yang terakhir di-kenal sebagai Latifah Kullu Jasad yang me-liputi seluruh tubuh. Latifah ini dihijab oleh sifat jahil dan lalai.

Apabila hijab tersebut mampu dihapuskan oleh tenaga ibadat dan dzikir akan muncul-lah sifat berilmu dan beramal. Tenaga dzikir yang berjalan lancar dalam daerah ini dapat dirasakan mengalir keseluruh tubuh, dari ujung rambut sampai keujung kaki, menyerap kesegenap rongga dalam tubuh badan, bercampur dengan darah, daging, tulang, sumsum dan seluruh maujud.

Suasana yang demikian bisa di-kata-kan bahwa seluruh tubuh berzikir. Keasyikan dalam latifah  ini membawa seseorang menyaksikan cahaya yang gilang gemilang tidak dapat dibayangkan dan ditentukan warnanya.

Cahaya ini, seperti juga cahaya-cahaya yang lain, bukan-lah cahaya Tuhan dan sekali-kali bukan Tuhan dan perlu di-nafikan dengan ucapan :  “ La ilaha illa Llah ”.

Tujuan tarekat tasauf adalah membawa hati keluar dari kegelapan dan masuk kedalam cahaya yang terang benderang.

Dalam dunia ini benda-benda nyata bisa di-saksi-kan karena ada-nya cahaya terang seperti matahari, bulan dan lampu. Perkara dunia yang abstrak dapat di-saksi-kan melalui cahaya akal.Alam ghaib dapat pula di-saksi-kan melalui cahaya latifah.

Walau-pun cahaya latifah  muncul sebentar saja dalam pandangan mata hati namun ia cukup memadai untuk menerangi perjalanan menuju stasiun kerohanian berikut-nya.

Apabila seseorang mencapai baqa semua cahaya tidak mempunyai warna, maka tidak ada penyaksian terhadap cahaya, tetapi hati masih dapat merasakan suasana yang terang benderang menerangi perjalan-an-nya, sehingga dia tidak merasa keliru atau ragu-ragu.

Cahaya-cahaya alam kerohanian memandu seseorang untuk sampai ke-Hadrat Ilahi. Suasana Hadirat Ilahi adalah makam ihsan, yaitu merasakan kehadiran Tuhan dalam segala keadaan dan pada setiap saat.

Orang yang sampai kepada pengalaman yang demikian itu, akan mengerti maksud firman Allah SWT:

Allah jualah Cahaya bagi langit dan bumi. ( Ayat 35 : Surah an-Nur ) .

Nur Allah SWT adalah Hadirat-Nya atau kehadiran-Nya yang dapat dirasakan oleh hati yang terkait-erat dengan roh-nya yang asli. Nur Allah SWT bukan-lah cahaya yang boleh di-fikir-kan, di-gambar-kan atau di-khayal-kan.

Maksud melihat Nur Allah SWT adalah merasakan kehadiran-Nya. Apapun warna cahaya yang di-saksi-kan di-dalam alam ghaib adalah cahaya yang Dia gubah sebagai alat untuk menarik hamba-hamba-Nya agar dapat terus berjalan sehingga sampai kepada alamat yang dituju. Alamat yang terakhir hanya dapat ditemui dan dicapai melalui obor-cahaya kebenaran yang sejati.

Dan demikian-lah Kami wahyu-kan kepada engkau satu Roh dari urusan Kami. Padahal tidak-lah engkau tahu apa itu Kitab dan apa itu iman. Tetapi Kami jadikan ia nur yang Kami beri petunjuk dengan ia barangsiapa yang kami kehendaki daripada hamba-hamba Kami.

Dan sesungguh-nya ENGKAU akan memimpin kami ke-jalan yang lurus, yaitu jalan Allah, kepunyaan-Nya semua yang ada di-langit dan semua yang ada di- bumi.

Ketahui-lah! Kepada Allah akan sampai segala urusan.( Ayat 52 & 53 : Surah asy-Syura ) Wahyu adalah cahaya kebenaran yang sejati, di-jadi-kan nur yang memberi petunjuk yang dengan-nya segala urusan sampai kepada Allah SWT. @abiz

One response to “Tarekat Tasauf

  1. bagus n jelas,
    Akan sempurna jika berkenan melengkapi dengan trik trik n langkah2 untuk mencapai makam makam tsb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s