Pengemis dan Orang Kaya

 sumber : Maha Guru Ching Hai

Pada suatu ketika, ada seorang pengemis, dan di-kota kediaman-nya hiduplah seorang jutawan. Tetapi orang itu sangat pelit sekali! Apapun yang dia peroleh, dia masuk-kan ke-dalam lemari atau menggali lubang di-dalam tanah dan di-sembunyikan. Tidak se-orangpun, bahkan dirinya (gelak tawa), mengetahui dimana. Dengan cara ini, dia tidak harus mengeluarkan uang!

Begitulah keadaan-nya, dia sangat pelit, sekali!  Dia tidak pernah memberikan uang kecil kepada siapapun, apalagi uang gede, apakah kepada pengungsi atau Palang Merah; dia bahkan tidak ingin mendengarkan hal-hal semacam itu. Dia ingin menjaga uangnya agar tetap utuh.

Untuk pengeluaran sehari-hari, dia juga sangat, sangat ahli dalam kepelitan-nya. Maka dari itu  istri, anak-anak-nya, ibu, dan saudara-saudarinya – semuanya jadi sengsara.

Pada suatu hari seorang pengemis mendatangi rumah sang jutawan dan menginginkan sekeping emas dari dia. Sang jutawan memiliki banyak emas, tetapi tentu saja, dia mengusir pengemis itu dan menyuruh pelayan dan keluarganya untuk menyingkirkan si-pengemis keluar.

Pada hari berikut-nya, pengemis itu datang lagi dan menginginkan hal yang sama, sekeping emas. Maka sang jutawan sekali lagi menyepak dia keluar. Tetapi pengemis itu datang lagi pada hari berikutnya – lagi dan lagi, hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun.

Dia benar-benar berlatih kesabaran! (Gelak tawa). Dia pasti melakukan meditasi atau hal spiritual lain-nya, karena dia begitu amat gigih, bagitu sabar.

Kesabaran adalah satu dari kebajikan yang diajarkan sang Budha kepada murid-muridnya. Kesabaran adalah salah satu dari Enam Kesempurnaan (Para-mita).

Tahun demi tahun berlalu seperti ini, sampai pada suatu hari sang jutawan menjadi bosan dengan pengemis itu, sehingga akhirnya dia memotong sekeping emas yg sangat kecil sekali, dan diberikan-nya kepada pengemis itu.

(Gelak tawa). Guru berkomentar bahwa kita harus belajar dari cerita ini: Apapun yang ingin kita lakukan, kita harus tekun, dan mungkin kita akan berhasil !

Kemudian pengemis itu menjadi amat bahagia. Bahagia sekali sambil meloncat-loncat kegirangan dan ber-nyanyi “Halleluya!”  Kemudian dia menaruh kepingan emas itu di-dada-nya lalu pulang kembali dan pergi tidur.

Dia meletak-kan kepingan emas itu di-dekat-nya, diatas bantal meditasi-nya, dan pergi tidur sambil ter-senyum2 bahagia.

Tetapi pada saat dia bangun, emas-nya hilang, raib dan tidak ada lagi. (Gelak tawa)

Tentu saja! Dia kaget setengah mati…..

Mungkin calon murid saya atau orang lain mengira bahwa kepingan emas itu adalah mainan anak-anak dan membawanya pulang atau ada yang dengan sengaja mengambilnya, tetapi dia tidak tahu siapa. Karena pengemis itu biasa tidur di-depan pasar swalayan, di-kolong jembatan, di-depan bioskop, di-tanah lapang, dimana saja! Bila dia meletak-kan sekeping emasnya disana, maka siapa saja dapat mengambil dan membawa-nya pergi.

Kemudian pada hari berikutnya dia kembali dan meminta sekeping emas lagi dari sang jutawan yang sama.

Dan sang jutawan bertanya keheranan,  

“Kenapa? Saya kan baru saja memberimu sekeping emas kemarin. Apa yang kamu perbuat dengan-nya?”  

Pengemis itu berkata,

 “Ya, kemarin saya memperoleh-nya, lalu saya meletak-kan-nya di-samping saya, lalu saya menutup mata, dan pada saat saya membuka mata, emasnya hilang. Maka hari ini saya harus kembali lagi untuk minta sekeping emas yang lain.”

Saat sang jutawan mendengar ini, dia menjadi tercerahkan! (Gelak tawa) Dia menyadari Kebenaran mengenai segala hal di-dunia ini:

Hari ini kalian memilikinya; mungkin besok kalian tidak memilikinya lagi. Atau kalian mungkin memilikinya sekarang, tetapi ke-esok-kan harinya kalian tidak memilikinya lagi.

 

Dia tiba-tiba menjadi tercerahkan, kita seharusnya tidak terikat pada semua barang yang kita miliki di-dunia ini. Pikirnya

 Dan setelah itu, dia mengubah sikap-nya. Dia mulai memberikan amal kepada orang dan hidup dengan wajar, hidup santai. Dia tidak lagi melekat kepada emas atau uang. Tidak pelit lagi.

Orang2 disekitarnya mengira bahwa pengemis itu adalah seorang makhluk Surgawi, yang menjelma sebagai seorang pengemis dengan tujuan untuk mengajarkan sang jutawan pelajaran mengenai ketidak-melekatan, dan pencerahan. (Tepuk tangan)

Buku ini (Guru mengangkat buku yang telah Dia baca) benar-benar bermanfaat bagi saya, dan merupakan guru saya. Setelah membaca buku ini, saya juga menjadi tercerahkan; saya juga menjadi sangat tidak me-lekat.

Saya tidak lagi berpikir mengenai uang atau emas karena saya tidak memilikinya suatu apapun! (Guru dan semua orang tertawa. Pendengar bertepuk tangan.)


Saya dilahirkan dengan tidak membawa emas, dan saya akan meninggalkan dunia ini dengan tidak membawa emas.

Apapun yang saya peroleh adalah milik kalian. Itu milik dunia. Seperti halnya kalian mengambilnya disini dan memberikan-nya disana.

Sama halnya dengan setiap dari kita. Kita mengambil air dari sungai, menyimpan-nya dalam sebuah tangki air, dan kemudian air itu didistribusikan keseluruh desa atau kota. 

Kita harus menjalani hidup kita bagaikan sebuah tangki air. Apapun yang kita peroleh adalah untuk dibagikan. Kita hanyalah penerima.

Sebagai contoh, saya mempunyai banyak uang, tetapi saya tidak pernah merasa bahwa saya memilikinya.. Amat melegakan. Kalian tidak khawatir karena kalian sudah tidak menganggap bahwa itu adalah milik kalian. Jadi, apakah itu ada disana atau tidak, itu tidak menjadi persoalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s