” Ndeso ?…enggak tuh “

Suatu kali Ha’em Majenun Nadjib ditodong pertanyaan beruntun. ” Cak MajeNun”, kata sang penanya, ” misal-nya pada waktu bersamaan tiba-tiba sampeyan menghadapi tiga pilihan, yang harus dipilih salah satu :  

  1. pergi ke-masjid untuk shalat Jumat, sambil nyolong sandal. (ambil yg baik dan tinggalkan yg buruk, sandal-nya).
  2. mengantar pacar berenang, atau
  3. mengantar tukang becak miskin ke-rumah sakit akibat tabrak lari,

mana yang sampeyan pilih?”.  

Cak MajeNun menjawab lantang,

“Ya nolong orang kecelakaan dong ! “.

” Tapi sampeyan-kan dosa karena tidak sembahyang?” ,

 

kejar si-penanya. 

“Ah, mosok sih,  Gusti Allah kan enggak ndeso kayak gitu”, jawab Cak MajeNun.  

” Kalau saya memilih shalat Jumat, itu namanya mau masuk surga ndak ngajak-ngajak” ,

katanya lagi.

“Dan lagi belum tentu Tuhan memasuk-kan ke-surga orang yang mem-perlakukan sembahyang sebagai credit point pribadi”.
Bagi kita yang menjumpai orang yang saat itu juga harus ditolong, Tuhan tidak berada di-masjid, melainkan pada diri orang yang kece-lakaan itu. Tuhan mengidentifikasikan dirinya pada sejumlah orang.
 

Kata Tuhan:

“ Kalau engkau menolong orang sakit, Akulah yang sakit itu Kalau engkau menegur orang yang kesepian, Akulah yang kesepian itu. Kalau engkau memberi makan orang kelaparan, Aku-lah yang kelaparan itu “. 

Seraya bertanya balik, Cak MajeNun berujar,

” Kira-kira Tuhan suka yang mana dari tiga orang ini., hayo…”. 

Pertama, orang yang shalat lima waktu, membaca al-quran, mem-bangun masjid, tapi korupsi uang negara. 

Kedua, orang yang tiap hari berdakwah, shalat, hapal al-quran, meng-anjurkan hidup sederhana, tapi dia sendiri kaya-raya, pelit, dan mengobarkan semangat permusuhan.  

Ketiga, orang yang tidak shalat, tidak membaca al-quran, tapi suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang?”  

Kalau saya, ucap Cak MajeNun, memilih orang yang ketiga. ]

Kalau korupsi uang negara, itu namanya membangun neraka, bukan mem-bangun masjid.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya bukan membaca al-quran, tapi menginjak-injaknya.

Kalau korupsi uang rakyat, itu namanya tidak sembahyang, tapi meng-injak Tuhan.

Sedang orang yang suka beramal, tidak korupsi, dan penuh kasih sayang, itulah orang yang sesungguhnya sembahyang dan membaca al-quran.  

Itu-lah saya…he-he-he sambil menepuk dada saya sendiri, keras banget….sampai batuk-batuk.

Kriteria kesalehan seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di-kebaktian atau misa.

Tolok ukur kesalehan hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan istri orang lain, memberi, membantu sesama.

Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang. 

Agama adalah akhlak. Agama adalah perilaku. Agama adalah sikap. Semua agama tentu mengajarkan kesantunan, belas kasih, dan cinta kasih sesama. Bila kita cuma puasa, shalat, baca al-quran, pergi ke-baktian, misa, datang ke-pura-pura, menurut saya lho, kita belum layak disebut orang yang beragama. Tetapi, bila saat bersamaan kita tidak mencuri uang negara, meyantuni fakir miskin, memberi makan anak-anak terlantar, hidup bersih, maka itulah orang beragama.  

Lagi-lagi itulah saya….he-he-he, bukan-nya sombong tapi itu fakta…fakta lho….

Ukuran keberagamaan seseorang sesungguhnya bukan dari kesalehan personalnya, melainkan diukur dari kesalehan sosialnya. Bukan kesa-lehan pribadi, tapi kesalehan sosial.

Orang beragama adalah orang yang bisa menggembirakan tetangganya.

Orang beragama ialah orang yang menghormati orang lain, meski beda agama.

Orang yang punya solidaritas dan keprihatinan sosial pada kaum mustadh’afin (kaum tertindas). Juga tidak korupsi dan tidak mengambil yang bukan haknya. Karena itu, orang ber-agama mestinya memuncul-kan sikap dan jiwa sosial tinggi.

Bukan orang-orang yang meratakan dahi-nya ke-lantai masjid, semen-tara beberapa meter darinya, orang-orang miskin meronta kelaparan. 

Itu-lah saya…he-he-he.
Ekstrinsik Vs Intrinsik 

Dalam sebuah hadis diceritakan, suatu ketika Nabi Muhammad SAW mendengar berita perihal se-orang yang shalat di-malam hari dan puasa di-siang hari, tetapi menyakiti tetangga-nya dengan lisan-nya.

Nabi Muhammad SAW menjawab singkat,  

” Ia ada di-neraka “.  

Hadis ini memperlihatkan kepada kita bahwa ibadah ritual saja belum cukup. Ibadah ritual mesti di-barengi ibadah sosial. Pelaksanaan ibadah ritual yang tulus harus melahirkan kepedulian pada ling-kungan sosial.
Hadis diatas juga ingin mengatakan, agama jangan dipakai sebagai tameng memperoleh kedudukan dan citra baik dihadapan orang lain. Hal ini sejalan dengan definisi keberagamaan dari Gordon W. Allport. Allport, psikolog, membagi dua macam cara beragama:
 

  • ekstrinsik dan
  • intrinsik.

 

Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat diman-faatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Ia puasa, misa, kebaktian, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Dia beragama demi status dan harga diri. Ajaran agama tidak menghujam ke-dalam dirinya.
Yang kedua, yang intrinsik, adalah cara beragama yang memasukkan nilai-nilai agama ke-dalam diri-nya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke-dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pe-ngaruh dalam sikapnya sehari-hari. Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan penuh kasih sayang.

Keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertang-gungjawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy.

Kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Sebaliknya, cara beragama yang intrinsik menciptakan kebersamaan. Karena itu, menciptakan kebaha-giaan dalam diri penganutnya dan lingkungan sosialnya. Ada penghayatan terhadap pelaksanaan ri-tual-ritual agama.
 

Cara beragama yang ekstrinsik menjadikan agama sebagai alat politis dan ekonomis. Sebuah sikap beragama yang / memunculkan sikap hipokrit; kemunafikan. Syaikh Al Ghazali dan Sayid Quthb pernah berkata, kita ribut tentang bid’ah dalam shalat dan haji, tetapi dengan tenang melakukan bid’ah dalam urusan ekonomi dan politik. Kita puasa tetapi dengan tenang melakukan korupsi. Juga kekerasan, pencurian, dan penindasan.

Indonesia, sebuah negeri yang katanya agamis, merupakan negara penuh pertikaian. Majalah News-week edisi 9 Juli 2001 mencatat, Indonesia dengan 17.000 pulau ini menyimpan 1.000 titik api yang sewaktu-waktu siap menyala. Bila tidak dikelola dengan baik, dengan mudah beralih menjadi bentuk kekerasan yang memakan korban.

 

Peringatan Newsweek lima tahun lalu itu, rupanya mulai mem-perlihatkan kebenaran. Poso, Maluku, Papua Barat, Aceh menjadi contohnya. Ironis.

Jalaluddin Rakhmat, dalam Islam Alternatif, menulis betapa banyak umat Islam disibuk-kan dengan urusan ibadah mahdhah (ritual), tetapi mengabaikan kemiskinan, kebodohan, penyakit, kelaparan, ke-sengsaraan, dan kesulitan hidup yang diderita saudara-saudara mereka.

 

Betapa banyak orang kaya Islam yang dengan khusuk meratakan dahi-nya diatas sajadah, sementara di-sekitarnya tubuh-tubuh seksi seronok, eh tubuh-tubuh kurus kering layu digerogoti penyakit dan kekurangan gizi. 

Kita kerap melihat jutaan uang dihabiskan untuk upacara-upacara ke-agamaan, disaat ribuan anak di-sudut-sudut negeri ini tidak dapat melanjutkan sekolah. Jutaan uang di-hambur-kan untuk mem-bangun rumah ibadah yang megah, padahal yang shalat disana cuman 3 baris saja, disaat ribuan orang tua masih harus menanggung beban mencari sesuap nasi.

Jutaan uang dipakai untuk naik haji berulang kali, disaat ribuan orang sakit menggelepar menunggu maut karena  tidak dapat membayar biaya rumah sakit. Secara ekstrinsik mereka beragama, tetapi secara intrinsik mereka tidak beragama.

Mereka dodol kayak sampeyan. Hhhmmm………piye toh mas ?. Sadar dong. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s