” Emang Gue Pikirin “

Hey pikiran who are you anyway ?

Brani-brani-nya bikin kita-orang pusing  tujuh-keliling. Gara-gara mikirin siapa elu. 

Tanya : terdiri dari apa-an aja sih pikiran itu?.  Jawab : yang pasti sih pikiran itu cuman, terdiri dari 3 (tiga)  huruf , as simple as that :  EGP = Emang Gue Pikirin ??? !!! Pikiran ,

katanyaadalah sumber :       keinginan,  ketakutan,   keserakahan,   rasa iri,  kebanggaan,  emosi, dsb.   Mereka tidak lagi menyadari bahwa diri-nya telah terbiasa terperdaya dan diperbudak oleh pikiran-nya, sehingga mereka selalu diliputi dan dikuasai oleh segala macam perasaan dan keserakahan pikiran. Pikiran mereka sendiri… Pikiran itu seperti seiket kang-kung yang dijual orang di-pasar kaget…tau enggak ?. He-he-he, sorry ya ngelantur nih. Pikiran itu-kan cuman serangkaian kumpulan dari berbagai informasi yang bagus dan  jelek, buruk dan baek, Asal-nya bisa dari dalem dan luar negri. Semua-nya gandengan tangan jadi satu,  tumpah ruah-loh-jinawi, umplek-umplekan. Membentuk persatuan. Kompak nih yee….  Semua-unsur, pertikel  yang tadi udah kita sebut didepan, campur- baur, campur-sari-amburadul campur-aduk jadi satu, kayak benang kusut. Mereka semua nangkring and nongkrong di-dalem otak dan batok kepala kita-kita dan kepala elu-elu orang. Khusuk… eh kusut kayak benang kusut  didalem isi kepala gue…DAS KAPUT , bahasa Jerman-nya Ndas lu rusak, ndas gue juga. Untuk gampang-nya atau bahasa  keren-nya PIKIRAN kita singkat aja jadi    SOS BDD – atau  “ Same Old Shit But Different Day !!!

 Pikiran itu mirip-mirip kayak komputer atau apapun nama-nya yang elu-elu orang programin, waktu elu teken kibor-nya, hasil akhir-nya akan sama, Tergantung input-nya. bener gak? Jadi, siapa menabur angin, dia akan menuai badai. Maksud gue gini nih,…elu punya orgen listrik, terus di-programin pake Nada dan irama yang berbeda,  terus kita rekam, abis itu kita bisa puter ulang, Akhir-nya kita bisa dengerin ulang  kayak dengerin kaset.  Jadi sama juga dengan pikiran kita-kita orang, pikiran elu-elu orang.  

Pikiran-otak kita pada awal-nya kosong-melompong; bener-bener hampa, putih ndedet, peteng ndedet gitu-kan. persis kayak komputer baru, sampai kita mulai merekam suatu-informasi tertentu, yang kadang-kadang bagus, sering-sering  juga jelek, alias brengsek Baru-lah disket-nya full…low-bat.

Jika kebetulan kita merekam informasi yang baik, maka ketika kita ingin memakai-nya, maka informasi yang baik akan keluar.

Jika kebetulan kita merekan informasi yang buruk, maka informasi yang buruk akan keluar. GIGO-lo.

Kalau di-dunia spiritual arti-nya hukum karma, hukum sebab akibat. Barang siapa menabur angin, dia bisa masuk angin, bisa buang angin, alias kentut, bau lagi. Mau ya..gue kentutin. Mengerti-kah ?. Bagus!. 

Gitu juga dg meditasi, muhasabah, dzikir, belajar agama atau baca-baca-in kitab-kitab suci, itu semua hanya-lah merupakan : * suatu jalan atau cara untuk memprogram  kembali pikiran kita, * suatu jalan kehidupan.   Karena kita mem-program-ulang pikiran kita  ke-jalan yang baik, maka hasil yang akan keluar-pun selalu baik.  Gak bakalan seburuk yang sebelum-nya dan gak semua-nya jelek. Walaupun kita tidak dapat menahan untuk merekam suatu informasi yang lebih buruk tiap hari-nya, jumlah-nya akan semakin berkurang dari yang sebelum-nya, benarkah?  Hal tersebut karena kita terus-menerus merekam hal-hal yang baik, seperti bermeditasi; Muhasabah, Dzikir, sembahyang, berdoa atas nama Tuhan, kita berbuat sesuatu atas kuasa Tuhan dan kita mem-peroleh kuasa Tuhan melalui diri kita, mengisi kita dengan kebahagiaan, kebajikan dan kebaikan. Sehingga apabila muncul  informasi buruk, maka sudah gak ada tempat lagi untuk-nya. dan juga kemungkinan muncul-nya info buruk bisa diperkecil. Oleh karena kebaikan dan juga daya  kuasa dari Tuhan,  melalui meditasi, doa, sembahyang, dzikir, miraj setiap saat, setiap hari, kita dapat memperlemah dan menghancurkan secara keseluruhan segala informasi yang merusak pikiran dan jiwa kita.

Itulah sebab-nya kita mau tidak mau harus bermeditasi, sholat tahajud, muhasabah ! atau apa-pun sebutan-nya. Mengerti ? Bagus… 

Mau tidak mau kita harus mempelajari kitab-kitab suci. Harus dan harus!!! Kok jadi kayak diktator ya. Maksa nih yee.

Itulah sebab-nya maka kita gak boleh lupa bahwa kita-ini lebih agung daripada ilmu pengetahuan., lebih hebat daripada sertifikat Ph.D  yang cuman sepotong dua potong kertas. Kita lebih agung daripada gelar yang kita bangga-bangga-kan, seperti doktor-ini atau doktor-itu, atau posisi yang ini dan posisi yang itu.  Kita lebih canggih daripada ANU, lebih hebat daripada raja apapun di-Bumi ini. Kita ini-kan Presiden Alam Semesta, inget gak? Kita ini penguasa Jagad Raya.

Bener enggak sih ?…pikir dong!. 

Kita lebih hebat dari PIKIRAN. Diri kita ini adalah apa yang kita PIKIR….betul gak?

Jadi gak perlu lagi mikirin apa itu PIKIRAN!.

  

Adakala-nya kita bahkan tidak menyadari bahwa kita memiliki ke-Aku-an dan kita terjebak dalam ke-aku-an ini. Aku ini kan cuman jaringan sang Maya.  Aku ini binatang jalang, dari kumpulan-nya yang terbuang….ku mau tak seorang-pun merayu…bla-bla-bla Aku ingin hidup seribu tahun lagi. Masih inget sajak-nya Chairil Anwar-kan?  Kita bahkan sama sekali tidak menyadari-nya sampai kita bermeditasi, Muhasabah, Tahadjud dan Dzikir lebih banyak dan lebih sering tiap hari tiap malem tiap detik tiap menit dan tiap-tiap sesuatu.  Dan semakin banyak kita melakukan itu….Muhasabah, Tafakaur dan sebangsa-nya, semakin banyak pula kita menyadari bahwa kita-kita ini dirintangi oleh kebiasaan-kebiasaan kita, oleh sekumpulan sampah kita sen-diri, ataupun serangkaian pemikiran yang gak bener.  Piktor, pikjah, piknik…dll yang jelek-jelek. Sama hal-nya bahwa setiap hari kita sibuk dengan peker-jaan rutin dan sibuk dengan pengetahuan duniawi kita dan kita pikir kita mengetahui begitu banyak,  sedemikian banyak, dan bahkan kita lupa bahwa kita adalah makhluk agung.  Kita mengetahui lebih banyak dari itu.  Kita mengetahui di-atas segala sesuatu ini dan itu. Kuasa ter-agung, sang kebijaksanaan agung, adalah sedemikian besar seperti itu, sebagai contoh, sedemikian agung-nya, sedemikian menyeluruh, dan kemudian kita menggunakan kebijak-sanaan agung itu hanya untuk memahami sedikit pengetahuan duniawi, misal-nya, pengetahuan kedokteran atau pengetahuan pengacara atau apapun nama-nya, dan kemudian kita melekat pada  pengetahuan itu. Keseluruhan kebijaksanaan kita hanyalah dipergunakan untuk mem-berikan perhatian kepada satu sudut pengetahuan ini saja.  

Sehingga kita lupa…gak inget. Mengertikah kalian terhadap apa yang saya maksudkan?

Yah itulah. Dan kita pikir bahwa kita ini telah sedemikian pinter-nya, sedemikian pandai-nya, kita adalah dokter ini dan Ph.D itu. Lulusan univeritas ini dan itu.  

Saya tidak bermaksud membicarakan tentang Anda lho. Saya berkata ” kita”, yang berarti termasuk diri saya sendiri juga.

Maaf!

Jadi sekarang kita pikir kita mengetahui sesuatu sedemikian buanyak. Kita cantik, seksi, ngganteng dll. Kita memiliki sertifikat ini dan sertifikat itu.

Tapi pada kenyataan-nya, kita sudah kehilangan keseluruhan 99,99% dari kebijaksanaan agung kita hanya untuk mem-berikan perhatian kepada pengetahuan duniawi yaitu “ Pikiran “, yang demikian banyak.  

Pada akhir-nya kita tidak memiliki apa-apa karena ini semua hanyalah sementara saja; pengetahuan ini akan berubah. Kita mengetahui begitu banyak definisi kedokteran atau begitu banyak obat-obatan yang telah dibuktikan kadaluarsa, obsolete, ketinggalan zaman, basi  dan telah digantikan dengan yang lain-nya.  

Kenyataan ilmiah juga sering-sering berubah, ya kan ?, ditarik dan digantikan dengan gagasan lain-nya, dan kemudian gagasan tersebut juga akan diganti lagi dan lagi terus-terusan, gak abis-abis, sejauh umat manusia melangkah maju ke-dalam kesadaran yang lebih tinggi.  

Dengan demikian,  tidaklah menjadi masalah betapa luas-nya pengetahuan yang kita peroleh dari du-nia ini atau dari pikiran atau daya penelitian otak, kita tidak akan pernah memperoleh  seluruh-nya, Kita-kita, elu-elu orang, ilmu pengetahuan, pikiran, otak….semua-nya itu – ya semuanya itu kita sebut aja-mereka.

Mereka hanyalah setitik kecil-banget di-Alam Semesta yang gede dan luas banget ! Seperti air dalam cangkir yang begitu bangga bahwa dia, saya, aku atau gue begitu besar dan dia tidak mengetahui bahwa saya, aku, gue adalah keseluruhan dari lautan itu sendiri tahukah kalian?

Ketika air itu di-hubung-kan dengan keseluruhan lautan, air itu menjadi lautan. Saya pikir kalian mengerti apa yang saya pikir-kan.

Jadi gak usah mikir…mikir yang susah-susah.@bizdeh.

Sumber: supreme master ching-hai dll.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s